Orasi Ilmiah Tiga Guru Besar Tetap IPB

Orasi Ilmiah Tiga Guru Besar Tetap IPB

Berita
Bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional 2014, tiga guru besar  Institut Pertanian Bogor (IPB)  melakukan Orasi Ilmiah Guru Besar.  Ketiga guru besar tersebut: Prof. Drh. Bambang Pontjo Priosoeryanto dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) menyampaikan "Penyakit Tumor Pada Hewan: Biologi dan Upaya Penanganannya",  Prof. Antonius Suwanto dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) memaparkan "Mikrobiom Manusia dan Pangan Fermentasi: Analisis Metagenom dan Nutrigenomik Tempe Indonesia" dan Prof. Didik Suharjito dari Fakultas Kehutanan mempresentasikan "Devolusi Pengelolaan Hutan dan Pembangunan Masyarakat Perdesaan".
 
Pengukuhan gelar Guru Besar Tetap digelar di Auditorium Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Dramaga, Sabtu (3/5). Prof. Bambang dalam orasinya menyatakan, pemahaman biologi, morfologi dan mekanisme terjadi serta berkembangnya penyakit tumor khususnya pada hewan, menjadi suatu keharusan untuk menggali lebih banyak informasi penyakit tumor. “Dengan memahami hal tersebut kita dapat mengetahui sisi-sisi kelemahan dan sel-sel tumor guna dijadikan titik sasaran dalam upaya mencari strategi paling tepat dalam menangani penyakit tumor.”
 
Karena itu, kata dia, pencarian berbagai bahan obat baru yang berbasis bahan biologik maupun kimia, khususnya tanaman berkhasiat obat perlu terus diupayakan.
 
Sedangkan Prof. Antonius  memaparkan keunggulan tempe sbagai salah satu kekayaan biodiversitas unik Indonesia.
 
"Kita sangat berkepentingan dalam memproduksi dan menentukan standar tempe  dengan memperhatikan kearifan lokal yang telah menyatu selama berabad-abad," kata anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) itu.
 
Untuk itu, katanya, penelitian dasar dan upaya guna peningkatan nilai tambah tempe perlu dipacu. "Peningkatan nilai tambah tempe itu harus dipacu bila Indonesia tidak ingin didikte negara lain dalam hal penentuan kualitas atau cara produksi tempe," katanya.
 
Sementara itu, Prof. Didik Suharjito mengemukakan gejala degradasi hutan dan konflik penguasaan kawasan hutan berkaitan dengan akumulasi permasalahan mendasar dalam politik pembangunan kehutanan.
 
"Khususnya  aspek politik dapat memarjinalkan masyarakat desa hutan saat membangun kehutanan," katanya.
 
Karena itu, kata dia, upaya untuk membalikkan kondisi degradasi harus segera dilakukan untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari.
 
Dikemukakan, devolusi pengelolaan hutan menjadi jalan menuju pengelolaan hutan yang lestari, berkeadilan sosial dan kemakmuran bangsa. Ia menjelaskan bahwa devolusi pengelolaan kehutanan didefinisikan sebagai pelimpahan kekuasaan dari pemerintah pusat kepada masyarakat desa hutan.
 
Materi orasi yang disampaikan oleh tiga guru besar tetap ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk kepentingan bangsa. Hal ini disampaikan oleh Ketua Dewan Guru Besar IPB, Prof. Roedy Poerwanto saat menutup kegiatan Orasi Ilmiah.
 
“Ketiganya memberikan wawasan dan khasanah baru dalam ilmu pengetahuan khususnya dunia pertanian. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita baik untuk masyarakat maupun bangsa Indonesia,” ujarnya. (***/zul)