Konferensi Internasional Padi: Selain Boros Air, Tanam Padi dengan Genangan Air akan Merusak Ozon
Orang mengatakan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang paling banyak memboroskan air. Padahal saat ini manusia membutuhkan air untuk hal lain. Hal ini dikarenakan adanya paradigma lama dalam menanam padi dimana sawah yang harus digenangi. Untuk menghasilkan 1 Kg beras dibutuhkan sekitar 1500-5000 liter air. ”Padahal konsumsi air sebesar itu tidak seluruhnya dipakai oleh tanaman padi. Dulu kenapa digenangi tujuannya adalah untuk mengurangi tumbuhnya gulma,” ujar Prof.Dr.Ir. Indra Budi Setiawan, dalam ajang 7 th Annual Conference of the International Society of Paddy and Water Environment Engineering (PAWEES) bertempat di IPB International Convention Center (7/10). Acara yang bertajuk International Conference on Promising Practices for the Development of Sustainable Paddy Fields ini digelar oleh Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB bekerjasama dengan Japanese Society of Irrigation, Drainage and Reclamation Engineering (JSIDRE) dan Indonesian Network of the System of Rice Intensification (INA-SRI).
Menurut Prof. Budi Indra, tantangan saat ini adalah bagaimana agar dalam menanam padi tersebut konsumsi airnya berkurang namun produktivitasnya tidak berkurang. Menurutnya, salah satu tekniknya adalah menanam padi dengan System of Rice Intencification (SRI) dengan pengairan yang lebih efisien dan lebih menjaga kesuburan tanah. Sistem ini juga bisa diaplikasikan dengan menggunakan pupuk organik.
Pakar Bioteknologi Ilmu Tanah IPB, Prof. Dr. Iswandi Anas menandaskan, “Implementasi sistem SRI di Indonesia masih tergolong lambat. Alasan utamanya adalah sulitnya merubah paradigma bahwa bertanam padi harus tergenang, mulai tanam setelah benih berumur 30 hari dan dalam satu lubang tanam harus 6 benih.”
Menurutnya petani sebenarnya bebas memilih sistem yang menurut mereka paling menguntungkan. “Saya berpendapat dengan menggunakan sistem SRI sebenarnya petani akan sangat diuntungkan. Yakni benih yang dibutuhkan per hektar untuk tanam konvensional sebanyak 48 kg sedangkan jika menggunakan sistem SRI petani hanya membutuhkan 1/8 nya saja yakni 8 kg. Selain itu, pemakaian pupuknya pun berkurang sehingga menjaga kesuburan tanah,” tambahnya. Prof. Iswandi menambahkan jika tanam dengan cara digenangi akan menimbulkan gas methane yang menyebabkan rusaknya ozon.
Konferensi PAWEES 2009 yang merupakan konferensi ke-7 ini menggalang pengetahuan dan pengalaman dari para pakar dan praktisi (petani) dari seluruh dunia yang peduli untuk mencari alternative atau cara baru tentang budidaya tanaman padi untuk produksi beras yang berkelanjutan. Perhatian secara khusus diberikan pada bagaimana meningkatkan produktivitas lahan, air dan tenaga kerja. Pertanian padi organik dan penemuan kembali varietas-varietas lokal merupakan topik-topik lain yang menarik dalam rangka restorasi tanah-tanah sebagai tempat aktivitas zat hara dan mikrobiologis. Nilai-nilai pedesaan dan fasilitas-fasilitas sosial merupakan aspek-aspek yang terlalu penting untuk diabaikan ketika memperkenalkan cara-cara baru tentang budidaya padi sawah.President PAWEES, Tsuyoshi Miyazaki mengatakan dalam sambutannya bahwa dewasa ini negara-negara di Asia mengalami infrastruktur yang buruk untuk produksi pertanian, hal ini diakibatkan oleh polusi kimiawi akibat industri. Pertanian itu sendiri dihadapkan pada masalah ekosistem yang disebabkan pencemaran air oleh pupuk kimia, pestisida, gas rumah kaca dan sebagainya. Pada momen ini kita perlu meneliti dan mengevaluasi berbagai kendala berkenaan dengan pertanian, mengembangkan dan memperluas ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pertanian yang berkelanjutan.Hal ini ditegaskan pula oleh Rektor IPB yang pada kesempatan ini diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Yonny Koesmaryono, dalam sambutannya yang mengatakan bahwa memproduksi padi tidak hanya masalah meningkatkan kualitas tetapi juga menjaga ekosistem dan sumberdaya alamnya. “Saya harap Konferensi ini akan menjadi sarana untuk berbagi ilmu pengetahuan dan informasi “ tandasnya. Dewasa ini, sangatlah penting untuk mencari alternatif atau cara-cara baru untuk produksi beras yang mampu memelihara sumberdaya alam dan nilai-nilai pedesaan, sementara tetap menjaga produktivitas tinggi. Lebih lanjut ia menyampaikan teknik padi dengan Sistem of Rice Intensification (SRI) yang telah berhasil dikembangkan akan menjadi topik yang menarik karena keunggulannya yang hemat air, tanpa mengunakan pupuk buatan dan organik dapat di bagikan ilmunya dalam seminar tersebut. Negara-negara peserta konferensi PAWEES kali ini adalah Jepang, Korea,Thailand, India, China, USA, Malaysia dan Timur Leste.
Penghargaan PAWEES Acara International Society of Paddy and Water Environment Engeenering (PAWEES), 7th Annual Conference of the International Society of Paddy and Water Environment Engeenering yang diselenggarakan di IICC, (7/10) memberikan tiga jenis penghargaan yaitu PAWEES International Award, PAWEES Paper Award dan PAWEES REVIEWER Award. Penghargaan PAWEES International Award ini diberikan kepada Osamu KITANI dan Shigeyasu Aoyama, dari JSIDRE, Jepang, David Molden, IWMI, dari Amerika, Dr. Min-Hua Tsai dari Council of Agriculture executive Yuan, Taiwan, dan Dr. Ha Woo Chung dari Seoul National University, Korea. PAWEES paper award diberikan kepada tim dari National Institute for Agro –environmental Sciences, Jepang, tim dari Ishika Prefectural Uiversity Jepang dan tim dari Korea Water Environment Institute, Korea.PAWEES Reviewer Award diberikan pada Dr. Chen-Wuing Liu dari National Taiwan University. Penghargaan- penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi kepada para penulis yang artikel ilmiahnya dipublikasikan dalam Journal of PAWEES tahun 2008 dan kepada para ilmuwan yang telah memberikan kontribusi nyata pada pengembangan persawahan padi yang berkelanjutan dan pengembangan bidang teknik pertanian (agricultural engineering) pada umumnya. (dh/zul)
