Bibit Entrepeneur Itu Lahir Dari Agrinex

Bibit Entrepeneur Itu Lahir Dari Agrinex

Berita

Hestiana dari IPB Juara Business Plan Agro Agrinex 2008

Momentum Agrinex 2008 sekaligus menjadi ajang mengasah calon-calon entrepreneur muda. Melalui salah satu kegiatan yakni Bussiness Plan Competition yang digelar sebagai salah satu rangkaian perhelatan agribisnis nasional ini, sebanyak 44 proposal diterima panitia untuk dikompetisikan.

Setelah melalui proses seleksi tahap awal, terpilih sebanyak lima finalis untuk diundang presentasi di ajang Agrinex 2008 di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta. Kelima proposal terpilih adalah: Ratno Pramuji (Universitas Tanjung Pura, Pontianak) dengan judul "Pemberdayaan Kelompok Tani dalam Pemanfaatan Limbah Tempurung Kelapa Menjadi Arang Briket di Kecamatan Siantan Kabupaten Pontianak"; Didik Listi Abi (Universitas Diponegoro, Semarang) dengan judul "Kampung Laut "Distributor dan Kafe Rumput Laut"; Mutakiyah Prihatining Rahayu (Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto) dengan judul "Saha Coco Fiber"; Hestiana (Institut Pertanian Bogor) dengan judul "Sweet Potato Flakes Sebagai Pangan Alternatif Perubahan Berbahan Baku Lokal"; Umedi (Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto) dengan judul "Pizza Tempe, Cake of Soybean".

Di hadapan audiens dan dewan juri yang terdiri dari Rifda Ammarina (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), Arif Imam Suroso (Wakil Rektor Bidang Bisnis dan Komunikasi IPB), Mindo H Sitorus (Dewan Koperasi Indonesia), Iranda (Sentra Media), Indra Pangasian (Sampoerna Agro), kelima finalis memaparkan rencana bisnis yang disusunnya. Lontaran-lontaran kritis dewan juri selain merupakan masukan bagi kematangan perencanaan bisnis masing-masing finalis, juga merupakan hal yang kian mengasah para finalis untuk percaya diri, karena itu merupakan bagian dari jiwa seorang entrepreneur.

Pada ajang kompetisi kali ini, Hestiana (Institut Pertanian Bogor), Mutakiyah Prihatining Rahayu (Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto), dan Didik Listi Abi (Universitas Diponegoro, Semarang) berkesempatan membawa pulang kemenangan masing-masing sebagai Juara I, II dan III.

Rifda Ammarina yang juga Ketua Panitia Agrinex 2008 mengatakan, yang dinilai dalam bussiness plan Agrinex Expo 2008 ini antara lain kelayakan usaha, ketersediaan bahan baku, keunggulan produk dan keuntungan usahanya. Menurut Rifda, keunggulan pemenang pertama bussiness plan dibanding yang lain adalah bentuk format bussiness plan-nya sudah memenuhi standar, bahan bakunya berasal dari lokal, produk yang dikembangkan inovatif, dan menguntungkan. "Tidak selalu produk inovatif yang diterima pasar itu menguntungkan. Dalam bisnis, besarnya jumlah keuntungan sangat diperhitungkan," ujarnya usai pengumuman pemenang. Lebih lanjut dikatakannya, para pemenang ini akan terus dipantau kegiatannya. "Kita akan terus berikan support, agar bisnis yang telah direncanakan adik-adik mahasiswa ini bisa terealisasi dengan baik." Rencananya besok Senin (24/3) para pemenang akan diberikan hadiah berupa uang pembinaan oleh Menteri Pertanian Dr.Anton Apriyantono, di JCC Jakarta.

Hestiana yang sempat diwawancara di sela-sela pengumuman kemenangan mengatakan, "Saya tertarik dengan pengembangan ubi jalar sebagai pangan alternatif, selain bersifat lokal, juga karena manfaatnya bagi kesehatan yakni kandungan serat dan beta karoten." Dikatakannya pula, "Sebagai mahasiswa IPB, saya ingin memberikan kontribusi untuk ketahanan pangan melalui diversifikasi pangan."

Ia pun bercerita, sewaktu ia duduk di Sekolah Dasar, sering didengarnya bahwa Indonesia yang memiliki beranekaragam suku itu memiliki makanan pokok masing-masing, seperti sagu di Maluku, jagung di Madura dan sebagainya. Namun, yang terjadi kini sebagian dari mereka itu beralih ke nasi.

"Oleh karena itu melalui produk berbahan baku lokal ini walaupun kontribusinya masih kecil, mudah-mudahan bisa memberikan suatu tindakan nyata dengan memanfaatkan potensi lokal sehingga dapat memutarkan roda perekonomian lokal," katanya. Ia mengakui, konsep yang telah dibuatnya masih jauh dari kesempurnaan, terutama untuk aspek pasar dan teknis di lapangan maka dari itu rencana ke depan akan banyak bertanya dan berguru kepada pakarnya.

"Bisnis ini masih skala rumah tangga dan kapasitas produksinya baru 280 bungkus per hari. Saya rasa produk ini bisa memiliki prospek yang bagus," ujar putri dari Abdul Rachman dan Suhaemah ini. (Tim Humas Agrinex 2008)