Tiga Peneliti IPB Terima Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa (AKIL)

Tiga Peneliti IPB Terima Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa (AKIL)

Berita

Tiga peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) menerima Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa (AKIL) tahun 2012 yang diserahkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof.Dr. Muh Nuh, Selasa (20/11) di Jakarta. Para peneliti tersebut adalah Dr.Ir. Muhammad Syukur, M.Si dari Departemen Agronomi dan Hortikultura (AGH) Fakultas Pertanian, Prof.Dr. Erliza Hambali dari Departemen Teknologi Industri Pertanian (TIN) Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta), dan Prof.Dr. C. Hanny Wijaya dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) Fateta.
 
Prof.Dr. C. Hanny Wijaya menerima anugerah atas karya invensinya Cajuputs (Melaleuca cajuputi Roxb.) Candy sebagai Permen Fungsional Pelega Tenggorokan dan Penjaga Homeostatis Flora Mulut. Sementara Prof.Dr. Erliza Hambali menerima anugerah atas karya invensinya Teknologi Proses Produksi Surfaktan Metil Ester Sulfonat (MES) dari Metil Ester Olein untuk Aplikasi Enhanced Oil Recovery Metode Huff dan Puff, Metode Persiapan Larutan Surfaktan Metil Ester Sulfonat (MES) Untuk Aplikasi Enhanced Oil Recovery (EOR), dan Aplikasi Surfaktan MES (Metil Ester Sulfonat) dari Stearin Sawit untuk Enhanced Water Flooding.  Keduanya masuk pada kategori teknologi yang dilindungi Paten. Sedangkan Dr.Ir. Muhammad Syukur mendapat anugerah kategori Varietas Tanaman yang dilindungi Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) dan dinobatkan sebagai pemulia tanaman cabai.
 Prof.Hanny berhasil membuat permen pelega tenggorokan dari bahan alami  yakni ekstrak  kayu putih yang menyehatkan tubuh. “Kami mengemasnya dalam bentuk yang lebih menyenangkan terutama dalam bentuk permen yang bercirikan muatan lokal, simpel, praktis, murah dan menyehatkan,”  ungkap Prof.Hanny. Menurut Prof. Hanny karya invensinya menjadi satu dari empat invensi yang telah disetujui oleh PT.Wahana Karya Inovasi untuk dikomersiilkan lebih lanjut. Prof. Hanny telah meneliti cajuputs candy sejak tahun 1996. Tahun 2011Cajuputs candy masuk dalam 103 inovasi paling prospektif yang dikeluarkan Bussines Innovation Centre.
 
Demikian pula varietas cabai hasil rakitan Dr.Syukur khususnya yang non hibrida juga sudah dikomersiil oleh Dramaga Seed di bawah Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB. “Saya meneliti cabai sejak tahun 2003. Hingga sekarang sudah 15 varietas baik hibrida dan non hibrida yang  sudah kami hasilkan,” ujar Dr.Syukur. Varietas cabai hibrida salah satunya IPB CH3. Varietas cabai non hibrida diantaranya: Pesona IPB, Anies IPB, SSP IPB. Varietas cabai IPB CH3 masuk 103 inovasi tahun 2011, sedangkan Pesona IPB masuk 104 inovasi paling prospektif yang dikeluarkan Bussines Innovation Centre tahun 2012.
 
Keberadaan benih cabai non hibrida dapat meringankan petani yang modalnya terbatas dan mengurangi ketergantungan benih impor. Sebagai pembanding  harga benih cabai non hibrida 10 gram sebesar Rp 15 ribu, jauh lebih murah dibanding harga benih cabai hibrida impor yakni 10 gram sebesar Rp 100 ribu.
 
Rektor IPB Prof.Dr.Herry Suhardiyanto menyatakan apresiasinya atas perolehan prestasi gemilang ini.  “Kepada para dosen yang meraih prestasi ini saya sampaikan ucapan selamat dan apresiasi yang tinggi. Semoga prestasi para dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan pada masa yang akan datang semakin meningkat. Demikian pula prestasi IPB sebagai institusi. Hal ini akan kian meneguhkan peran IPB dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan pembangunan pertanian di Indonesia.
 
Program pemberian Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa ini merupakan sebuah ajang yang tepat untuk menunjukkan berbagai prestasi bagi dosen, peneliti, dan masyarakat yang menghasilkan kekayaan intelektual yang berdaya guna dan berhasil guna. Inovasi dan kreasi tersebut diharapkan dapat menggerakkan industri, perekonomian, dan menyelesaikan masalah dalam masyarakat yang terkait dengan lingkungan. Di samping memperkuat bidang ilmu pengetahuan yang akan meningkatkan citra dan daya saing bangsa. Program ini juga diharapkan dapat memotivasi para penghasil kekayaan intelektual agar terus eksis dengan keahliannya untuk menciptakan atau menghasilkan temuan baru, sehingga dapat berkontribusi pada tumbuhnya industri baru atau meningkatkan daya saing perekonomian nasional. Salah satu persyaratan penerima anugerah ini adalah karya invensinya telah diaplikasikan dan dipasarkan di tengah masyarakat. (nm/ris)