Neraca Perdagangan Hortikultura Defisit

Neraca Perdagangan Hortikultura Defisit

horti
Berita
Dr.Ir. Nunung Nuryartono, Kepala Pusat Studi Internasional untuk Ekonomi dan Keuangan Terapan (Intercafe), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (LPPM-IPB) memaparkan fakta-fakta menarik perkembangan masa depan produk hortikultura di era global. Diprediksikan Thailand dan China menjadi negara terbesar eksportir bawang merah dan bawang putih. Pertanyaannya, ketika AEC 2015 diberlakukan, bagaimana kesiapan Indonesia untuk bisa mengalahkan Thailand bahkan Vietnam.
 
Pada tahun 2011, Gross Domestic Product (GDP) Indonesia cukup tinggi, sehingga Indonesia betul-betul menjadi pasar yang menarik bagi eksportir asing. Pertanyaannya, apakah para pengusaha Indonesia mau menjadi pemain lokal, regional atau internasional? Fakta yang ada menunjukkan produksi hortikultura nasional seolah-olah stagnan dalam periode lima tahun terakhir. Padahal dengan kenaikan income per capita, trend-nya cukup bagus, ada dugaan permintaan produk hortikultura dalam negeri meningkat.
 
“Sementara menurut data, neraca perdagangan hortikultura nasional betul-betul tertekan, transaksinya defisit. Memang impact-nya efektif ketika pemerintah menerapkan kebijakan kuota impor, impor turun drastis. Namun, ini adalah solusi jangka pendek, karena produk kita pasti akan 
diperlakukan sama di negara orang,“ kata Dr.Nunung saat menjadi narasumber dalam Kongres dan Seminar Ilmiah tahunan Perhimpunan Hortikultura Indonesia di IPB International Convention Center, Rabu (9/10).  Neraca perdagangan sayuran pun sama, defisit. Gap-nya cukup besar sekali. Pemerintah pun melakukan kebijakan yang sama.  “Kebijakan itu tentu tidak akan efektif untuk jangka panjang,” ujarnya. Pembicara lain yang dihadirkan Ir. Purwito dari PT. Great Giant Pineapple dan Kepala Pusat Penelitan dan Pengembangan Hortikultura, Kementerian Pertanian, Dr.Ir. M. Prama Yufdy, M.Sc. 
 
Bicara konteks perdagangan di kawasan ASEAN, Vietnam mampu mengungguli Indonesia dalam 10 tahun terakhir pada ekspor pangan. Kalau tidak hati-hati dan waspada Vietnam akan mengalahkan Indonesia. Untuk konteks daya saing, Indonesia dari tahun 2011-2012 menurun dari posisi 46 menjadi posisi 50. Posisi ini berada di bawah Thailand (38) dan Malaysia (25).
 
Sementara itu, berdasarkan survei rangking indeks kinerja logistik, Indonesia berada pada posisi 59. Hanya mampu mengalahkan Myanmar, Laos dan Kamboja. Singapura berada pada posisi puncak sebagai pintu masuk produk impor karena logistic performa-nya bagus. Yang menarik, menurutnya, impor sayuran di dominasi bawang putih dan merah. Sementara untuk impor buah paling banyak jeruk, apel dan pepaya. Untuk  tanaman obat impor terbesar adalah jahe. Dan pintu masuk impor hortikultura paling banyak dari Singapura . Padahal  Singapura bukan negara produsen, tetapi menjadi pintu masuk ke Indonesia.
 
“Selain itu, ada fenomena menarik dengan indeks infrastruktur Indonesia setelah dan sebelum otonomi. Setelah otonomi, kondisi infrastruktur di beberapa daerah mengalami penurunan. Hasil-hasil penelitian jika tidak diimbangi dengan faktor lain (logistik dan infrastruktur), maka akan sia-sia. Faktanya sudah banyak penelitian yang dihasilkan, hanya kemudian bagaimana itu didukung oleh kebijakan-kebijakan yang ada. Kita harus bisa bersama-sama mendorong pemerintah untuk mencari solusi jangka panjang agar hortikultura kita bisa bersaing di tingkat internasional,” paparnya.(zul)