Hadapi Pasar Bebas, Mari Cintai Pangan Lokal

Hadapi Pasar Bebas, Mari Cintai Pangan Lokal

Berita
The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Economic Community 2015 sudah di depan mata. Sudah siapkah Indonesia menghadapinya? Jawabannya belum. Apa yang bisa kita lakukan? Cintailah pangan lokal. Demikian sepenggal Dialog Interaktif dalam program "Pakar Institut Pertanian Bogor (IPB) di Siaran Pedesaan RRI, 93,75 FM", yang menghadirkan narasumber Prof. Dr. Ahmad Sulaeman, Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (FEMA-IPB).
 
Para pemimpin negara-negara Asia Tenggara atau ASEAN  pada tahun 2007 di Bali telah sepakat membentuk ASEAN Economic Community 2015 (AEC 2015). AEC 2015 menjadikan kawasan ASEAN sebagai kawasan pasar tunggal dimana akan terjadi aliran barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja terampil secara bebas.  Semestinya, kata Narasumber yang ramah ini, AEC 2015 bisa menjadi peluang untuk memasarkan produk Indonesia secara lebih luas, karena ada 600 juta penduduk ASEAN yang menjadi target produk kita. “Namun jangan lupa, jika kita tidak punya persiapan yang matang akan terjadi sebaliknya. Bayangan keuntungan dan kemakmuran dari kerjasama itu akan berdampak sebaliknya. Industri kita khususnya Usaha Kecil Menengah (UKM) dan produk pertanian akan tergerus oleh serbuan produk luar. Prof. Ahmad Sulaeman menjelaskan untuk menghadapi hal tersebut petani dan para pelaku UKM harus mampu menghasilkan produk bermutu dan ada peningkatan kualitas Sumberdaya Manusia (SDM). Selain itu, yang tidak kalah penting adalah pengetatan dan pengawasan masuknya produk-produk dari luar.
 
Lebih jauh, Prof. Ahmad Sulaeman yang sehari-hari menjabat sebagai Wakil Dekan FEMA ini, menekankan pentingnya nasionalisme. "Kita sebagai bangsa yang merdeka hanya bisa menikmati kemerdekaan bila memiliki ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan. Kemandirian hanya bisa dicapai dengan menjadikan pertanian sebagai pilar pembangunan. Di saat semua negara mempunyai semangat untuk kembali ke pangan lokalnya, Indonesia jangan sampai ketinggalan karena kita adalah negaya kaya akan keanekaragaman hayati yang dapat memenuhi semua kebutuhan pangan nasional.”
 
Dialog yang dipandu oleh Rio ini, cukup menarik bagi pendengar. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya Short Message Short (SMS) dan telepon yang masuk. Seperti Pak Ali, melalui teleponnya, menyatakan kekhawatirnya dalam kesiapan menghadapi AEC 2015.  Prof. Ahmad Sulaeman, diakhir dialognya menyarankan sebuah strategi untuk menghadapi AEC 2015. Seperti, perketat persyaratan importir pangan salah satunya harus ada keberpihakan untuk melindungi produk dalam negeri. Tolak benih hasil rekayasa genetik atau Genetically Modified Organisme (GMO) kecuali yang dikembangkan di dalam negeri. Membangun image pertanian sehingga anak muda mau terjun di bidang pertanian. “Selain itu, menyatakan cinta dengan membeli dan mengkonsumsi pangan yang aman dari dalam negeri", tandasnya. (wly)