2014, Swasembada Gula Sulit Terjadi

2014, Swasembada Gula Sulit Terjadi

Berita
Swasembada gula tahun 2014 terjadi apabila lahan untuk perluasan tebu sebesar 350 ribu hektar tersedia dan pabriknya sudah dibangun pada 2010. Hal ini disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) RI , Dr. Suswono dalam sambutannya yang dibacakan oleh Dr. Aziz Hidayat, dari Direktorat Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), dalam Seminar dan Lokakarya Gula Nasional 2013 di Institut Pertanian Bogor (IPB) International Convention Center (IICC), Senin (28/10).
 
Di Semiloka yang di gelar Persatuan Agronomi Indonesia (Peragi) ini Mentan mengatakan, banyak investor yang berminat untuk membangun pabrik gula di luar pulau Jawa, namun hasilnya bisa dikatakan nihil karena belum tersedianya lahan. Bahkan Agustus 2013, telah diterbitkan 13 Surat Keputusan pelepasan kawasan hutan oleh Menteri Kehutanan untuk sebelas perusahaan dengan  luas 279.615 hektar.
 
“Lahan yang kami siapkan tersebar di 5 provinsi di luar pulau Jawa. Namun, langkah pembebasan lahan ini tidak serta-merta diikuti dengan pembangunan pabrik atau penanaman tebu, karena kondisi di lapangan berbeda. Masih banyak masalah yang harus dihadapi di antaranya uang ganti rugi pembebasa lahan yang diluar kewajaran,” ujarnya.
 
Mentan juga meminta agar ada sinergitas semua pihak. Karena jika dihitung, peran Kementerian Pertanian hanya 20 persen, sisanya pihak lain. Seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Badan Permodalan, Perguruan Tinggi, Petani dan lain-lain.
 
Namun upaya ini dinilai sudah terlambat untuk mencapai swasembada gula pada 2014. Hal ini disampaikan oleh Ir. Achmad Mangga Barani, MM selaku Ketua Peragi. Menurutnya, sesuai data yang disampaikan Mentan, total produksi gula tahun 2013 mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu sebesar 1,7 persen. Hampir mustahil jika tahun depan, 2014, Indonesia bisa mencukupi kebutuhan gula sebesar 5,8 juta ton (2,8 juta ton untuk konsumsi langsung dan 3 juta ton gula rafinasi).
 
“Kondisi saat ini dimana lahan hanya 400-500 ribu hektar dan rata-rata produksi mencapai 5 ton per hektar, maka total produksi sekitar 2,25-2,5 juta ton. Jika tidak ada penambahan lahan dan prosesnya tidak mengikuti Good Agriculture Production (GAP), maka hampir mustahil tahun 2014 swasembada,” ujarnya didampingi Dr. Sugianta, selaku Sekretaris Peragi dan juga peneliti dari IPB. (zul)