Kegagalan Kemandirian Pangan Menjadi Penyebab Negara Middle Income Tidak Maju

Kegagalan Kemandirian Pangan Menjadi Penyebab Negara Middle Income Tidak Maju

Berita
Kegagalan kemandirian pangan menjadi salah satu penyebab negara middle income (berpendapatan menengah) sulit menjadi negara maju (high income). “Di dalam pertemuan G20 saya mendapatkan pencerahan dari Robert Juliet bahwa terjadi fenomena kegagalan negara berpendapatan menengah menjadi negara maju disebabkan kegagalan kemandirian pangan, infrastruktur dan investasi. Dari tahun 1960 negara berpendapatan rendah hanya 13 negara yang menjadi maju pada 2008,” ujar Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan dan Investasi, Dr.(H.C) Hatta Rajasa, saat memberikan sambutannya dalam acara Opening Ceremony Agrinex Expo Ke-7, Jum’at (5/4) di Jakarta Convention Center. Agrinex Expo ini terselenggara berkat kerjasama antara Institut Pertanian Bogor (IPB), Kementerian Pertanian dan Performax.
 
Sektor pangan atau pertanian selama ini memberikan sumbangan 15 persen PDB Indonesia. Dari 15 persen tersebut terbesar sumbangan dari sektor pangan atau hilirisasi industri pertanian dan sektor perikanan belum besar. Padahal menurut Hatta Rajasa, Indonesia mempunyai sumberdaya perikanan yang sangat banyak dan sayangnya belum tereksplorasi secara optimal sehingga belum bisa menyumbang banyak pada PDB Indonesia. “Trend negara dengan pendapatan sedang adalah meningkatnya daya beli atau konsumsi makanan dan minuman. Dari sisi bisnis, ini jelas peluang yang sangat potensial,  yang bila kita tidak cepat mengambilnya akan diisi investor asing,” imbuh Hatta Rajasa. Lebih lanjut Hatta mengatakan untuk meningkatkan daya saingnya diperlukan inovasi dan teknologi dalam mengambil peluang bisnis tersebut.
 
Senada dengan hal itu, Rektor IPB, Prof.Dr. Ir. Herry Suhardiyanto mengatakan ada lima langkah upaya pengarusutamaan pertanian dalam menyelesaikan berbagai persoalan  pangan, energi, air, dan lingkungan. “Ada lima langkah dalam menjadikan pertanian sebagai arus utama pembangunan nasional diantaranya: pengembangan varietas  tanaman pangan pokok, pengembangan industri pangan berbasis hulu dan hilir di desa, eksplorasi laut yang bijaksana, pengembangan bioenergi terpadukan dan berkelanjutan dan pengembangan inovasi infrastruktur, perbankan dan lembaga keuangan,” papar Prof.Herry.
 
Sementara Ketua Pelaksana Agrinex Expo ke-7, Ir. Rifda Ammarina menambahkan Agrinex Expo merupakan ajang kesempatan untuk memberikan informasi penyadaran pertanian kepada publik agar pertanian menjadi tulang punggung pembangunan. “Saya berharap dukungan penuh dari semua pihak khususnya pemerintah untuk mensukseskan kegiatan ini dalam rangka memajukan agribisnis Indonesia,” tandasnya. (ris)