MAKSI Gelar Seminar Tahunan Peningkatan Daya Saing Kelapa Sawit dan Industri Kelapa Sawit Indonesia Melalui Riset
Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) bekerjasama dengan Southeast Asian Food Science & Technology Center (SEAFAST CENTER) LPPM IPB menggelar seminar tahunan dengan mengusung tema " Peningkatan Daya Saing Kelapa Sawit dan Industri Kelapa Sawit Indonesia Melalui Riset," di IPB International Convention Center, Bogor, (29/1).
Seminar dan Kongres MAKSI 2009 ini merupakan kegiatan tahunan Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) yang kedua, dimana yang pertama digelar pada Januari 2008 lalu.
Indonesia, sebagai produsen sawit terbesar di dunia sudah semestinya lebih banyak mendisain dan mengendalikan pasar, termasuk menciptakan peluang-peluang pengembangan untuk masa depan sawit. Begitu dipaparkan oleh Ketua Umum MAKSI, Dr. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., dalam sambutannya.
"Dengan kata lain, dengan potensi yang besar, Indonesia harus mampu menciptakan peluang pengembangan sawit dengan lebih terarah dan terrencana. Tidak selayaknya Indonesia bertindak reakatif terhadap berbagai perubahan dan gejolak bisnis kelapa sawit global. Dengan potensi besar, Indonesia seharusnya mampu memberikan warna dan arah secara lebih dominan bagi perkembangan kelapa sawit di dunia," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Deptan, Sumardjo Gatot Irianto dalam sambutannya mengatakan, saat ini Departemen Pertanian (Deptan) tengah menggodok dan menyiapkan peraturan Menteri Pertanian mengenai pengembangan kelapa sawit di lahan gambut, sebagai acuan bagi pengusaha dalam mengelola perkebunan sawit di lahan gambut.
"Peraturan Menteri itu akan memberikan informasi tentang lokasi dan syarat-syarat lahan gambut bagi pengembangan perkebunan kelapa sawit, sehingga nantinya pengusaha terlindungi dan tidak lagi dipermainkan oleh pihak-pihak lain yang merugikan, " katanya.
Permentan tersebut untuk mengantisipasi serangan kampanye negatif oleh LSM-LSM yang memiliki misi tertentu dengan alasan menuding industri kelapa sawit sebagai penyebab perubahan iklim.
"Tantangan kelapa sawit ke depan adalah masalah perubahan iklim, maka dari itu kita harus membela dan melindunginya," ujarnya.
Selain itu, terkait penelitian dalam perkelapasawitan, Ia mengharapkan peneliti untuk melepaskan ego masing-masing, dan bisa berkomunikasi dengan baik antar peneliti.
"Kunci kelapa sawit menjadi maju itu ada dua, pertama, adalah membumikan kominikasi antar peneliti dan hasil-hasilnya sehingga dengan gamblang bisa dipahami dan diaplikasian, dan yang kedua saya berharap para peneliti dapat melepaskan ego masing-masing," ujar Sumardjo.
Menurutnya, jika kelapa sawit dapat dikembangkan dengan baik di dalam negeri maka akan menjadi industri terpadu yang luar biasa dan bisa menghasilkan industri lain sebagai efek sampingnya. Diantarannya adalah, industri bibit kelapa sawit yang murah dan berkualitas, pupuk, peternakan sapi dan olahan daging, serta energi.
"Saya berharap dari pertemuan ini, para peneliti bisa menghasilkan bibit kelapa sawit yang mini, umurnya panjang, memiliki produktivitas yang tinggi serta lamanya penelitian kurang dari 3 tahun. Untuk itu saya memberikan kesempatan yang luas kepada peneliti yang berkecimpung dalam molekuler untuk pengembangannya,"ujarnya.
Produksi CPO Indonesia pada tahun 2008 mencapai 19.80 juta ton dengan luas areal perkebunan kelapa sawit sebesar 7.16 juta hektar. Devisa yang diperoleh dari ekspor minyak kelapa sawit dan turunannya pada tahun 2007 mencapai 11,9 juta ton, dengan nilai 7,9 milyar dolar AS dan mampu menyerap 3,3 juta tenaga kerja langsung. Produksi CPO pada 2009 diperkirakan mencapai 20 juta ton.
Dari hasil evaluasi Tim Deptan, ada sekitar 50 persen lahan gambut yang bisa dikembangkan untuk perkebunan kelapa sawit seperti di Sumatera berpotensi sekitar 30 persen, di Kalimantan 70 persen dan yang terbesar di Propinsi Papua sekitar 92 persen. Lahan gambut yang tidak berpotensi di Sumatera sekitar 60 persen, di Kalimantan 30 persen dan di Papua sekitar delapan persen.
Acara ini dihadiri oleh, kalangan peneliti, pengembang, industriawan, pengusaha, peminat dan pelaku lainnya di bidang perkelapa sawitan, baik dari kalangan pemerintah, perguruan tinggi maupun lembaga peneliti dan pengembangan. Turut hadiri mewakili Rektor IPB, Kepala LPPM Prof. Dr. Ir. Bambang Pramudya Noorachmat, M.Eng. (man)
