Cara Efektif Menghemat Air Pertanian
Peneliti Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Budi Indra Setiawan menemukan teknologi yang dapat menghemat air saat kekeringan. Teknologi tersebut sistem irigasi kendi pada lahan tanaman ladang untuk mengantisipasi kekeringan di musim kemarau yang berkepanjangan. Hanya saja, temuan yang telah dipraktikkan di sejumlah negara kering ini sampai saat ini tidak dilirik oleh pemerintah sebagai projek yang mampu membantu para petani palawija. “Sistem irigasi kendi sangat tergantung pada pengaturan air atau water management. Kekeringan yang terjadi pada lahan tanaman ladang atau sawah padi yang terjadi saat ini lebih disebabkan karena tidak optimalnya pengaturan air (water management) saat musim hujan sehingga kekurangan air pada saat musim kemarau,” ungkap Kepala Bagian Teknik Sumber Daya Air IPB ini dalam acara Coffee Morning Publikasi Keunggulan IPB,Rabu (21/9) di Kampus IPB Darmaga.
Coffee Morning merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan Bidang Humas dan Protokol Sekretariat Eksekutif sebagai bentuk upaya publikasi berbagai keunggulan IPB ke masyarakat umum. Irigasi kendi sendiri diperkenalkan ke publik sejak beberapa tahun silam dan booming sekitar tahun 2008. Pada saat itu, Budi melontarkan ide pembuatan kendi dari lumpur Lapindo Sidoarjo. "Riset irigasi kendi sebenarnya sudah sejak tahun 1996 lalu. Setelah dikenalkan ke publik, timbul masalah darimana sumber bahan baku kendinya. Namun, saat masalah lumpur Lapindo mencuat, saya pikir lumpur yang ada merupakan potensi bahan baku kendi yang potensial," ujarnya.
Sejak diperkenalkan ke publik, beberapa negara, terutama negara beriklim kering mulai tertarik dan sudah menerapkan sistem ini. "Entah mengapa, kita (Indonesia) malah tidak tertarik menerapkan sistem ini," lanjut Prof. Budi. Sistem irigasi kendi, kata Budi, lebih efisien arena air yang diberikan ke tanaman semuanya terserap oleh tanaman dan tidak ada yang terbuang percuma. Sistem ini diterapkan secara sederhana, yakni dengan membenamkan kendi berisi air di tanah. Kendi yang digunakan terbuat dari tanah liat dan bahan lainnya sehingga air yang ada di dalam kendi mampu merembes ke akar tanaman. Kendi di tanah itu diisi air melalui selang yag dihubungkan dengan gentong air. Air di dalamnya akan merembes ke tanah di sekelilingnya melalui dindingnya yang dibuat permeable. Kemampuan dinding kendi untuk merembeskan air dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mengimbangi kebutuhan evapotranspirasi tanaman setiap waktu dan dengan memperhatikan pula sifat hidrolika tanahnya."Biarpun di atas kering, akar tanaman tetap basah kena air karena rembesan air dari kendi," tuturnya.
Dijelaskan Prof. Budi, sistem irigasi kendi dirancang dengan berbagai pertimbangan salah satunya adalah mengusahakan agar air yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan tanaman, serta menghindari kehilangan air melalui evaporasi. Pengisian air ke dalam kendi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu manual dan otomatis. Cara manual bisa dilakukan jika jumlah kendi terbatas atau tersedia tenaga kerja yang cukup.Sementara, cara otomatis yakni dengan menerapkan prinsip bejana berhubungan, yaitu di satu sisi berupa kendi dan di sisi lainnya adalah tangki sumber air. Keduanya dihubungkan dengan pipa atau selang plastik.
Sementara untuk lahan sawah padi, Prof.Budi memberikan solusi dengan menanam padi dengan sistem intensifikasi air irigasi. Tanaman padi yang ditanam lebih muda usianya dan tidak direndam air seperti yang diterapkan oleh petani saat ini. "Kondisikan tanah seperti bubur dengan demikian, akar bisa mendapat oksigen karena tanah tidak jenuh dengan air," tuturnya.
Cara ini, lanjut Prof.Budi terbukti menghemat air hingga 40 persen. Artinya, dengan masa tanam sekitar tiga sampai empat bulan, musim kering yang berlangsung dua atu tiga bulan bisa teratasi karena pengaturan air irigasi. Dengan sistem SRI ini, air 1750 mm bisa mengairi padi sekitar delapan ton. Meski sistem ini menjamin ketersediaan air pada musim kemarau, tidak banyak petani yang menggunakan sistem ini. Ditegaskan Prof. Budi, kedua sistem ini sebenarnya sangat tergantung pada manajemen air atau rain harvesting. Artinya, saat musim hujan seharusnya petani menyimpan air yang berlebih di tempat tertentu (waduk) sehingga bisa digunakan pada saat musim kemarau. Hanya saja, infrastruktur yang ada saat ini nampaknya belum bisa mengantisipasi musim kemarau. Akibatnya, waduk tidak bisa menyimpan air saat hujan sehingga sumber aor kekeringan saat musim kemarau. "Pembuatan irigasi seharusnya memperhitungkan bagaimana musim kemarau nanti. Jika saat peak kemarau air di irigasi pun kering, maka saluran irigasi itu gagal fungsinya," lanjut Prof. Budi (ris)
