Krisis Pangan dan Energi, IPB Tawarkan Konsep
Setidaknya empat dasawarsa terjadi kemerosotan kesejahteraan rakyat
Indonesia. Pertama, awal abad 20-an akibat kapitalisme perkebunan. Kedua, tahun
30-an terjadi depresi ekonomi dunia. Ketiga, kondisi kemiskinan pertengahan
Orde Baru atau awal 70-an. Keempat,
kemerosotan ekonomi awal Abad 21 sebagai akibat krisis finansial dan
multidimensi. "Setiap dasawarsa
Indonesia berusaha menjawab kemerosotan tersebut dengan jalan keluar. Misalnya,
awal Abad 20-an muncul konsep trilogi pembangunan (edukasi, transmigrasi dan
irigasi). Konsep ini bias kepentingan
kolonialis. Tahun 1970-an, pemerintah menjawab dengan delapan jalur pemerataan
(welfare policy). Sedangkan krisis
pangan dan energi akibat krisis ekonomi global tahun 2008 ini tugas kita bersama memberikan masukan konsep
bagi pemerintah," papar Ketua Lembaga Studi Agama dan Filsafat Prof.Dr.Dawam
Raharjo dalam acara Seminar Dies Natalis Institut Pertanian Bogor (IPB) ke-45
bertajuk 'Konvergensi Nasional untuk Kemandirian Pangan dan Energi Menuju
Kedaulatan Bangsa' Kamis (30/10) di IPB International Convention Center.
Menurut Prof. Dawam depresi ekonomi yang melanda dunia akan rutin terjadi
selama capital driven yakni riba atau bunga tetap dipertahankan. Ekonomi riba
ini bersifat eksploitatif, predatoric (memangsa), diskriminatif dan koruptif. Kapitalis mengeksploitasi buruh. Sektor finansial mengeksploitasi
sektor riil dan menyebabkan buble economy
(gelembung ekonomi). Pertumbuhan ekonomi yang dibangun dengan memangsa
negara lain dan senantiasa menimbulkan
kemiskinan baru melalui ekspor krisis ekonomi atau inflasi. "Kapitalisme
memunculkan diskriminasi perempuan, kaum lemah dan kalangan minoritas.
Kapitalisme juga menyuburkan korupsi dimana-mana," kata Prof. Dawam.
Prof. Dawam menyayangkan arsitek ekonomi
Indonesia saat ini sangat kapitalis. Prof. Dawam mengatakan perlu adanya arsitek
– arsitek ekonomi baru yang pro-rakyat untuk membenahi struktur ekonomi
Indonesia. "Arsitek ekonom baru ini diharapkan membuat unit banking
system yang menyebar dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat serta menetapkan APBN berimbang yang tidak ditunjang utang luar negeri. Disamping itu, mengembangkan sektor riil
berbasis sumberdaya alam dan modal yang
dimiliki Indonesia."
Guru Besar Departemen Ilmu Ekonomi IPB, Prof.Dr. Didin S.Damanhuri, M.Sc
menyampaikan hambatan dalam mewujudkan kemandirian dan kedaulatan pangan serta
gizi. "Demokrasi politik dan kepemimpinan Indonesia hanya menciptakan
kompradorisasi bergantung pada kepentingan negara maju." Ukuran sukses
pembangunan hanya ditekankan pada stabilitas makro ekonomi dengan menganggap
globalisasi sebagai fenomena netral, bahkan sumber kemajuan tanpa sikap kritis.
Industrialisasi berbasis impor dan mengabaikan keunggulan kompetitif berbasis
sumber daya domestik. Ini diperparah dengan ketiadaan grand-design yang komprehensif untuk kemandirian, kedaulatan dan
diversifikasi pangan serta energi. "Grand-design
ini berupa payung kebijakan makro ekonomi
dengan dukungan kebijakan fiskal,
moneter, perbankan, penyuluhan, pengembangan teknologi, hingga gerakan budaya
dan kebijakan industrialisasi berbasis sumberdaya domestik," jelas Prof. Didin.
IPB mendukung usaha kemandirian pangan dan energi dengan menghasilkan
berbagai konsep pemikiran dan produk hasil-hasil riset-riset para dosen,
peneliti dan mahasiswa baik melalui program hibah, RUSNAS, kerjasama
berbagai instansi dalam dan luar negeri. "Beberapa hasil riset
tersebut mendapatkan penghargaan dari Presiden Republik Indonesia
sebagai 100 inovasi terbaik tahun 2008. Dari 100 inovasi ini 21 diantaranya
dihasilkan peneliti IPB," ujar Rektor IPB, Dr.Ir. Herry Suhardiyanto.
Pada bidang pangan, IPB menghasilkan beberapa varietas baru tanaman pangan
dan hortikultura, teknologi budidaya, pascapanen, pengolahan, produk-produk
pangan olahan dan model kemitraan. Program Riset Unggulan Strategis Nasional
(RUSNAS) diversifikasi pangan IPB saat
ini berfokus pada empat buah kegiatan potensial. "Pengembangan modified cassava modified flour (MOCAF)
di Kabupaten Trenggalek. Pengembangan tepung ubi jalar dan berbagai bisnis
turunannya di Kabupaten Bogor. Pengembangan Jagung Sosoh Pratanak di Kabupaten
Takalar. Pengembangan aneka produk mie jagung untuk berbagai skala industri,"
urai Rektor.
IPB juga telah menghasilkan beberapa calon varietas padi antara lain: padi
gogo toleran lahan masam dan resisten blas daun atau leher malai, padi gogo
toleran lahan masam dan penyakit blas, padi gogo toleran naungan, padi sawah
toleran lahan gambut dan pasang surut. Semua
calon varietas padi tersebut siap diuji-multilokasikan.
Pada bidang energi, IPB juga telah menghasilkan beberapa varietas baru
tanaman penghasil energi seperti jarak pagar yang mempunyai produksi tinggi,
kualitas baik, tahan hama, masa tanam singkat. "Beberapa hasil riset baru
lainnya seperti pengembangan Tungku Sekam (biomassa) untuk rumah tangga dan
industri pedesaan, pengembangan mikroalga sebagai bahan baku biofuel,
pengembangan biosurfaktan dan pemanfaatan energi gelombang permukaan serta angin
laut."
Seminar yang diselenggarakan Direktorat Riset dan Kajian Strategis IPB ini menghadirkan pembicara
kunci, Prof.Dr.Emil Salim. Selain itu, juga menampilkan pembicara diantaranya:
Bupati Bantul H.M. Idham Samawi, Ketua Federasi Serikat Petani Indonesia Hendri
Saragih, Deputi Agro Industri, Kehutanan, Kertas, Percetakan dan Penerbitan Dr.Ir. Agus Pakpahan, Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB Dr.Ir. Dahrul
Syah, Dewan Energi Nasional Prof. Dr. Andrianto Handoyo, Anggota
DPR Dr.Bomer Pasaribu, Aktivis Institut Bisnis dan Ekonomi
Kerakyatan Ir.Tri Mumpuni, dan Tim Energi IPB Prof.Armansyah Tambunan. Acara
tersebut dimoderatori oleh Dr.Ir. Soeryo Adiwibowo, Dr.Ir.Arif Satria, dan Dr.Ir.
Dwi Andreas Santoso. (ris)
