Pertanian Industrial Untuk Ketahanan Pangan dan Pembangunan Perdesaan yang Berkelanjutan
Ragam krisis yang ada saat ini membayangi ketahanan sistem pangan dunia. Tahun 2050, diprediksikan jumlah penduduk dunia mencapai 9 milyar dan menuntut adanya sistem penyediaan pangan yang memadai.Untuk menyediakan pangan yang cukup ini diperlukan strategi baru yang handal yang bertujuan untuk menjamin peningkatan produksi pangan secara berkelanjutan. Saat ini seperti kita ketahui bersama bahwa kenaikan permintaan pangan, keterbatasan sumberdaya, peningkatan alih guna lahan dan dampak pemanasan global kian menekan sektor pertanian. Belum lagi, lebih dari 870 juta orang berprofesi sebagai petani kecil (gurem), masih menderita kelaparan kronis dan rawan gizi,” kata Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr.Ir.Herry Suhardiyanto, saat memberikan sambutan selamat datang kepada para delegasi nasional dan internasional pada Seminar dan Pertemuan University Network for Tropical Agriculture(UNTA), Selasa (3/9) di IPB International Convention Center.
Sebagai bentuk respon untuk mengatasi persoalan tersebut, The World Economic Forum me-launching “New Vision for Agriculture”. Visi pertanian baru ini dijadikan platform untuk membangun kerjasama berbagai pemangku kebijakan dalam mendorong ketahanan pangan, kelestarian lingkungan dan pengembangan ekonomi. Hal ini selaras dengan program FAO yang juga me-launching aksi yang tertuang dalam the Global Agriculture and Food Security Program (GAFSP). Fokus GAFSP adalah memberikan pendampingan secara teknis dalam meningkatkan ketahanan pangan dan pendapatan bagi negara yang berpendapatan rendah.
Pertemuan dan Seminar UNTA ke-dua ini juga merupakan salah satu bentuk kepedulian perguruan tinggi untuk memberikan sumbangan solusi terhadap persoalan isu pertanian dan pangan global, khususnya persoalan pertanian tropika. “Saya berharap UNTA dapat menjadi ajang untuk menggali potensi yang lebihbesar lagi bagi pengembangan sistem budidaya di daerah tropis dengan karakteristiknya yang khas,” lanjut Rektor IPB. Dalam hal ini, Universitas yang mempunyai kompetensi yang kuat dalam bidang pertanian tropis harus saling bekerjasama erat terkait pengembangan sumberdaya manusia, peningkatkan keterampilan dan masa depan petani serta pegembangkan penerapan penelitian dan teknologi canggih di pertanian tropis. Sebagai contoh, beberapa negara tropis seperti Taiwan, dan Brazil sudah melakukan berbagai terobosan teknologi dan kebijakan peraturan pemerintahannya demi memajukan pertaniannya.
Lebih lanjut Rektor IPB mengatakanbahwa fakta menunjukkan beberapa negara tropis berpendapatan menengah sudah bertransformasi menuju negara industri. “Pertanian berperspektif industrial sangatlah penting”. Pertanian industrial merupakan bentuk dari budidaya modern yang meliputi industrialisasi dalam bidang peternakan, perikanan dan komoditi pangan. Pertanian industrial menggabungkan metode tekno-sains, ekonomi dan politik. Ditambah inovasi dalam mesin dan produksi, penciptaan pasar baru bagi konsumen, aplikasi perlindungan paten terhdap informasi genetik dan perdagangan global,” papar Rektor IPB.
Hal ini berbeda dengan praktek pertanian tradisional di sebagian negara industri yang menggunakan bahan bakar minyak yang tinggi, termasukair dan unsur hara tanah yang menyebabkan menjadi tidak lestari. Ini, menurut Rektor IPB berkontribusi besar terhadap terjadinya degradasi lingkungan, hilangnya kesuburan tanah dan keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, kegiatan ini mengambil tema “Pertanian Industrial untuk Ketahanan Pangan dan Pembangunan Perdesaan yang Berkelanjutan (Industrial Agriculture for Sustainable Food Security and Rural Development)”.
Menurut Ketua Panitia Seminar, Dr.Ir.Ernan Rustiadi, kegiatan ini bertepatan dengan Peringatan Dies Natalis IPB Ke-50. Kegiatan yang dihadiri perwakilan FAO, Dr. Carlos Arthur B. da Silva, Menteri Pertanian, Dr.Suswono dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr.Illah Sailah (Dirjen DIKTI), ini dihadiri oleh rektor dan dekan perguruan tinggi negara Thailand, Malaysia, Taiwan, Australia, Jepang, Vietnam, Belanda dan Jerman. Dalam kesempatan tersebut Dr.Suswono juga me-launching Buku ‘Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2013-2045, Kementerian Pertanian.
Selain itu, kegiatan yang terselenggara berkat kerjasama Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Negara (BNI) ini juga dihadiri para dekan dari universitas dalam negeri, diantaranya: Universitas Syiah Kuala, Universitas Jambi, Universitas Sriwijaya, Universitas Lampung, Universitas Gajah Mada, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Diponegoro, Universitas Udayana, Universitas Mulawarman, Universitas Lambung Mangkurat, dan Universitas Hasanuddin.
Kegiatan seminar ini diikuti dengan pertemuan para rektor dan delegasi dari universitas anggota UNTA yang akan membahas program kerjasama regional, mencakup pendidikan dan riset di bidang pertanian tropika. Dalam pertemuan ini akam dibahas juga ‘Memorandum Bogor’ sebagai bentuk komitmen bersama untuk mewujudkan ketahanan pangan dan kehidupan yang lebih baik. IPB juga akan memperkenalkan program studi internasional, yaitu International Tropical Agriculture, yang sedang dipersiapkan dan akan diusulkan menjadi program joint/double degree dengan mitra perguruan tinggi anggota UNTA.
Penyelenggaraan seminar dan pertemuan jejaring internasional perguruan tinggi dengan fokus pada pertanian tropika di IPB, menegaskan posisi IPB sebagai perguruan tinggi pertanian terkemuka yang menjadi referensi bagi pengembangan pendidikan tinggi pertanian. Posisi ini sesuai dengan peringkat IPB di dalam QS World University Ranking 2013 by subject, yang menempatkan IPB dalam peringkat 150 – 200 perguruan tinggi terbaik di dunia dalam bidang pertanian dan kehutanan. Beberapa program studi juga telah memperoleh akreditasi internasional, antara lain dari Asean University Network untuk program studi Agronomi dan Hortikultura, Budidaya Perairan, Proteksi Tanaman; ABET untuk Department Teknologi Industri Pertanian; IFT untuk Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan; dan IMAREST untuk Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan.
IPB sudah bereputasi internasional, tetapi tetap memberikan perhatian utama pada kepentingan nasional, sesuai mandat yang diberikan. Karena itu dalam Dies Emas ini, IPB mengambil tema ‘Pengarusutamaan Pertanian untuk Pembangunan Berkelanjutan. Kita berharap ada konvergensi program dan aktivitas pihak-pihak terkait untuk bersama-sama memajukan pertanian Indonesia.