Tomcat : Dari Musuh Alami Wereng Coklat Hingga Anti Kanker

Tomcat : Dari Musuh Alami Wereng Coklat Hingga Anti Kanker

20120321154702148163_serangga-tomcat
Berita

Pemberitaan tentang tomcat akhir-akhir ini banyak menghiasi media massa. Serangga ini dianggap sudah mewabah di Surabaya, Madiun, Pati dan juga  di Jakarta.

Menurut Pakar Serangga  Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB),   Dr. Purnama Hidayat  menyampaikan tomcat sebenarnya tidak seburuk pemberitaan di media massa. “Serangga ini lebih banyak manfaatnya dibanding keburukannya,” kata Dr.Purnama dalam Coffee Morning, Jum’at  (30/3) dengan wartawan di Kampus IPB Baranang Siang.

Serangga yang memiliki nama asli Paederus fusipes ini merupakan predator alami bagi hama wereng coklat. Seekor tomcat dapat memakan wereng cokelat per harinya bisa mencapai tujuh hama wereng.  Lebih lanjut Dr. Purnama menyampaikan habitat asli tomcat  berada di daerah  persawahan. Tidak hanya di Surabaya dan Madiun saja, tapi di wilayah mana pun yang terdapat areal persawahan,  maka kita  dengan mudah akan menemukan banyak tomcat.
 
Selain predator alami yang dapat mengendalikan  hama wereng pada tanaman padi, dalam dunia medis, tomcat memiliki kandungan pederin yang dapat berfungsi sebagai anti kanker.

Dr. Mira Ikawati, SP.KK yang hadir dalam acara ini membenarkan,  pederin dapat menghambat DNA dan merupakan kandidat anti kanker. Namun belum ada penelitian lebih lanjut terkait hal ini.  Dr. Mira menyarankan untuk menghindari iritasi yang terjadi akibat terkena kandungan pederin dalam tomcat, disarankan bagian anggota tubuh kita sebaiknya tidak di tepuk, cukup diusir  untuk menghindari keluarnya pederin dalam tubuhnya. “Karena biasanya iritasi kulit yang terjadi bukan karena gigitan atau sengatan, melainkan lebih kepada gilasan atau hancur nya tomcat di permukaan kulit,” jelas dr.Mira.
 
Terkait mewabahnya serangga tomcat pada beberapa waktu yang lalu, Dr. Purnama menduga  bisa jadi habitat alaminya terganggu, sehingga serangga inni bermigrasi ke pemukiman penduduk.  Dr. Purnama menyarankan, ketika ditemukan banyaknya tomcat di wilayah pemukiman sebaiknya mengurangi pencahayaan di malam hari.(dh)