BICARA KUALITAS HIDUP PEREMPUAN DALAM MUSRENBANG DI DIALOG SORE RRI
“Melihat data statistik di Kota dan Kabupaten Bogor, perempuan dan laki-laki jumlahnya seimbang, sehingga kaum perempuan menempati posisi yang sangat strategis dalam pembangunan. Tujuan pembangunan adalah meningkatkan kualitas hidup manusia dan manusia adalah laki-laki dan perempuan. Perempuan penting hadir dan terlibat dalam MUSRENBANG (Musyawarah Rencana Pembangunan), sehingga kebutuhan perempuan dapat terakomodir yang arahnya adalah mencapai kualitas hidup perempuan itu sendiri”, demikian dikatakan oleh Dr. Ir. Titik Sumarti, MS. Kepala Divisi Program Studi Wanita, Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM)-IPB di acara Dialog Sore RRI Bogor dalam rangka menyambut Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2011.
Keterlibatan kaum perempuan di dalam Musrenbang sangat minim, secara kuantitas dan kualitas laki-laki sangat mendominasi keputusan, karena yang diundang banyak yang menempati posisi elit seperti : kepala desa, tokoh masyarakat, para ketua RT dan RW, sementara realitas di lapang mengenai pendidikan, kesehatan, yang menempati posisi di PKK, Posyandu dan Posdaya yang mayoritas perempuan belum terwakili. Perempuan yang punya akses dan tahu adanya Musrenbang baik di tingkat desa maupun kecamatan belum bisa masuk untuk mengambil keputusan. Perempuan terbagi dalam dua golongan, yang pertama adalah yang tahu adanya Musrenbang dan punya akses, akan tetapi terhanyut oleh kesibukannya seperti sibuk karier, umumnya perempuan di perkotaan, sementara golongan kedua adalah yang paling besar adalah masyarakat biasa yang belum mendengar apa itu musrenbang dan memang tidak terundang. Apabila adapun jarang terakomodir, karena musrenbang lebih terarah ke fisik, sementara yang non fisik mengenai kapasitas manusia, ekonomi,
peningkatan gizi belum tesentuh.
Melalui Inpres No. 9 tahun 2000 setiap program pembangunan harus menerapkan strategi mengenai kebutuhan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, dilanjutkan dengan KEPMENDAGRI : Cara pandang tentang kebutuhan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki, jadi tidak cukup dihadirkan para elit, tapi masyarakat perempuan dari tingkat bawah yang pendidikan, kesehatan dan ekonominya perlu diperhaikan, tentunya harus diajarkan beberapa kader untuk menyampaikan pendapat bahwa kebutuhan laki-laki dan perempuan itu berbeda. Diharapkan Musrenbang dapat terakomodir dari tingkat yang paling bawah sampai ke atas, seperti tingkat desa diakomodir ke tingkat kecamatan dan hasil dari kecamatan diakomodir di tingkat kota atau kabupaten, sehingga kemajuan kaum perempuan tidak hanya berupa ceremonial dengan mengikuti perayaan hari ibu saja, akan tetapi ikut serta di dalam peletakan dasar pendidikan, kesehatan, perekonomian untuk pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
