Prof Cecep Kusmana: Solusi Atasi Banjir, Longsor dan Kekeringan di Indonesia

Prof Cecep Kusmana: Solusi Atasi Banjir, Longsor dan Kekeringan di Indonesia

DSC_2635
Berita
Salah satu bentuk bencana alam terkait dengan kondisi alam di Indonesia adalah bencana banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Ketiga jenis bencana ini secara signifikan telah menyebabkan kerugian terhadap sumberdaya alam yang penting untuk menunjang kehidupan penduduk dan pembangunan nasional.
 
Menurut Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof.Dr.Ir. Cecep Kusmana, ada empat solusi mengatasi bencana-bencana tersebut, diantaranya memperbesar volume air yang tersimpan dalam tanah dan memperkecil volume air larian (run off), memperbesar serapan karbon(carbon sequestration) dan memperkecil jumlah emisi gas rumah kaca (GRK) untuk meminimalisasi terjadinya global warming yang akan menimbulkan perubahan iklim global.
 
“Selain itu, kelembagaan dan regulasi yang efektif dan efisien untuk pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan dan terpadu serta bersikap hidup sederhana dan hemat dalam menggunakan sumberdaya alam, dan arif terhadap lingkungan sekitar,” ujar Prof Cecep dalam jumpa pers di Kampus IPB Dramaga Bogor, Rabu (4/6).
 
Lebih lanjut Prof Cecep mengatakan, penutupan vegetasi seperti hutan memegang peranan penting dalam pengaturan sistem hidrologi, terutama "efek spons" yang dapat menyekap air hujan dan mengatur pengalirannya, sehingga mengurangi kecenderungan banjir dan menjaga aliran air di musim kemarau. Fungsi tersebut akan hilang jika vegetasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) yang lebih tinggi hilang atau rusak. “Di seluruh wilayah tropika, 90persen petani di dataran rendah tergantung pada kegiatan 10 persen masyarakat yang tinggal di daerah hulu sungai. DAS di Sungai Gangga India misalnya, dimana 40 juta penduduk yang tinggal di pegunungan Himalaya mempengaruhi 500 juta penduduk di dataran rendah,” papar Prof Cecep.
 
Oleh karena itu pada daerah yang bercurah hujan tinggi, keberadaan hutan itu penting dalam mengurangi laju air curahan sebesar 10-40 persen, sehinggamengurangi aliran permukaan yang berpotensi sebagai penyumbag banjir. Selain itu, adanya serasah dan aktivitas mikroorganisme dapat meningkatkan air resapan ke dalam tanah menjadi air simpanan. Dengan demikian adanya hutan di daerah curah hujan tinggi dapat mengurangi risiko terjadinya banjir antara 10-40 persen dan meningkatkan air simpanan melalui serasah lebih dari 4 persen.
 
Jika di suatu DAS telah banyak dilakukan konversi hutan menjadi non-hutan seperti daerah Puncak atau Lembang, maka risiko terjadinya banjir menjadi besar bahkan banjir bandang. Curah hujan yang tinggi ditambah dengan topografi daerah pegunungan pendek dan terjal serta rendahnya penutupan vegetasi merupakan kombinasi faktor penting terjadinya banjir bandang.
 
“Terkait bencana tanah longsor, pada tanah yang tidak stabil, penebangan hutan menaikkan hampir lima kali kejadian longsor dan hampir tiga kali volume tanah yang longsor. Pembuatan jalan meningkatkan 50 kali pada kejadiaan longsor dan 30 kali pada volume tanah yang longsor. Pada tanah yang stabil pengaruh tersebut tidak terlalu Nampak, sehingga hutan sangatlah penting untuk pengendaliaan tanah longsor khususnya didaerah yang tidak stabil,” tutur Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Sekolah Pasca Sarjana IPB ini.
 
Sementara itu, penghijauan yang hanya menanam pohon yang tinggi tanpa memperhatikan adanya tumbuhan bawah dan serasah justru akan menaikkan erosi. Dalam penghijauan sebaiknya memperhatikan pohon yang dipilih mempunyai ujung penetes yang sempit, dan ada tumbuhan bawah dan serasah, tumbuhan bawah dapat berupa rumput.(zul)