Indonesia Masih Produsen CPO Terbesar Dunia

Indonesia Masih Produsen CPO Terbesar Dunia

Berita

Produksi Crude Palm Oil (CPO) Indonesia mencapai angka 19,2 juta ton pada tahun 2008. Angka ini telah melampaui Malaysia yang berada di level produksi 17,08 juta ton pada tahun yang sama. Pencapaian ini lebih cepat dari yang diprediksi sebelumnya, dimana Indonesia dinyatakan baru akan menjadi penghasil CPO no. 1 di dunia di tahun 2010.

Industri Kelapa Sawit memberikan sumbangan pada produk domestic bruto (PDB) nasional sebesar 4,5%, sementara perolehan devisa dari ekspor CPO sebesar 3,5 Milyar dolar. Industri kelapa sawit juga mampu menciptakan lapangan kerja dan memberikan pendapatan yang cukup baik bagi 3,3 juta Kepala Keluarga atau 13,2 juta orang.

Data ini disampaikan oleh Deputi Menristek Bidang Sipteknas Prof. Amin Subandrio, saat memberikan Keynote Speechnya dalam acara Seminar Tahunan Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) dengan tajuk "Paparan Hasil RUSNAS Industri Kelapa Sawit" bertempat di IPB Internasional Convention Center (24/11). Lebih lanjut dikatakannya, volume ekspor CPO Indonesia terus meningkat menjadi 12,5 juta ton pada tahun 2008 dengan luas lahan 8,127 hektar dan produktivitas tanaman sawitnya sebesar 3,7 ton/hektar.

"Pemerintah akan terus mengupayakan melalui berbagai kebijakan teknis dan fiskal. Targetnya pada 2020 produksi CPO mencapai 40 juta ton atau 2 kali lipat dari produksi saat ini. Hal ini akan dicapai dengan dua pendekatan yakni perluasan areal dan peningkatan produktivitas. Luas areal perkebunan akan menjadi 9,127 juta hektar dengan produktivitas sawit mencapai 4,5 juta ton/hektar," ujarnya.

Namun menurutnya industri sawit masih memiliki kelemahan dalam menghadapi persaingan global. Salah satunya masih rendahnya muatan teknologi yang diterapkan oleh industri. Sehingga mayoritas devisa dari industri ini berasal dari industri hulunya, padahal nilai tambah terbesar justru terdapat pada industri hilir.

Menurutnya, sawit telah ditetapkan sebagai prioritas riset dalam Agenda Riset Nasional 2005-2009 serta penelitian dan pengembangan industri sawit nasional diarahkan untuk menghasilkan produk-produk kelapa sawit yang lebih kompetitif dan mampu merespon isu-isu lingkungan dan menyangkut industry hulu sampai hilir.

Di sisi lain, kelapa sawit dituding menjadi biang keladi kerusakan lingkungan, semisal pembakaran hutan berkontribusi terhadap peningkatan gas rumah kaca dan perusakan habitat orang utan, selain isu kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Oleh karena itu sebagai upaya memperkuat daya saing industri kelapa sawit nasional, dibutuhkan suatu pengembangan sistem penelitian nasional yang bersifat komprehensif dan disinergikan dengan kegiatan bisnis.

Menurut Amin, strategi penelitian dan pengembangan kelapa sawit saat ini adalah peningkatan penelitian pada teknologi pembibitan agar dihasilkan bibit unggul dan mampu memenuhi kebutuhan pasokan bibit nasional, memfasilitasi strategi peningkatan perolehan dengan memaksimalkan produktivitas penggunaan lahan, efisiensi pupuk, fokus pada peningkatan nilai tambah kelapa sawit pada produksi oleochemical dan phytonutriens, dan sinergis antara perguruan tinggi, lembaga riset dan dunia usaha.

Sementara itu, Kementrian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) telah mengembangkan skema insentif untuk penelitian. Skema ini menggantikan RUSNAS yang telah dikembangkan sejak tahun 2002. Skema insentif ini merupakan penataan ulang dari RUSNAS dimana dana yang disalurkan akan diatur supaya mampu membiayai dan menghasilkan produk penelitian yang lebih banyak.

"Sangat sedikit industri yang punya bagian R&D, untuk itu insentif yang dikembangkan KNRT selain melibatkan peneliti juga akan mengikutsertakan industri. Ini merupakan komitmen pemerintah untuk mendorong industri melakukan penelitian," tambahnya.

Menanggapi penggantian skema ini, Wakil Rektor Bidang Sumberdaya dan Pengembangan IPB, Prof. Dr.Ir. Hermanto Siregar menyatakan dengan adanya evaluasi tentang RUSNAS, IPB akan mengajukan program-program penelitian yang lebih efektif dan efisien. "IPB terkenal aktif dalam mengajukan program penelitian yang lengkap dengan berbagai potensi. Namun diperlukan prioritas karena dana R&D sangat terbatas," ujarnya.

Dalam seminar yang diselenggarakan oleh MAKSI bekerjasama dengan DIKTI dan IPB ini hadir para akademisi, peneliti, praktisi, birokrat dan para pelaku bisnis di bidang perkebunan kelapa sawit. (zul)