Wokatobi, Surga Bawah Laut
Jika Anda adalah seorang penyelam (diving) sejati, sekali waktu menyengajalah berwisata bahari ke Wakatobi. Sebuah singkatan dari gabungan empat pulau Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko di Sulawesi Tenggara. Wakatobi terletak di tengah-tengah pertemuan tiga terumbu karang dunia (coral triangle center). Wakatobi memiliki terumbu karang seluas 90.000 hektar. Atoll tunggal terpanjang di dunia yakni 48 kilometer.
Beranekaragam terumbu karang nan cantik hidup disana. Dari total 850 jenis terumbu karang dunia, 750 jenis diantaranya ada di Wakatobi. Bandingkan dengan pusat diving Carribian dan Laut Merah yang hanya memiliki 50 dan 300 jenis terumbu karang. Wajar, bila kemudian Wakatobi disebut laut yang mempunyai keanekaragaman hayati yang paling tinggi.
Binatang langka sejenis kuda laut, Pygmy Seahorse, bisa ditemukan di sini. Konon, binatang sepanjang dua sentimeter ini hanya bisa ditemukan di laut di atas episentrum (pusat) bumi. " Ada seorang berwarganegaraan Swiss yang cacat kakinya, sembilan kali gonta-ganti penerbangan menuju Wakatobi demi ingin melihat keberadaan Pymy Seahorse ini," tutur Bupati Wakatobi, Ir. Hugua dalam Workshop dan Promo ‘Wakatobi Goes To The Only Real Underwater Paradise At The Heart Of Coral Triangle Center' Selasa (1/4) di IPB International Convention Center. Selain keindahan bawah laut yang tak terkira, budaya dan kuliner masyarakat Wakatobi heterogen. Karia, Sombo, Bangka Mbule-Mbule, Kabuenga, Silat, tarian Lareangi, sajomoane, Balumpa, Posepa, Hekansalu merupakan contoh warisan budaya leluhur sebagai pelengkap wisata bahari.
Selama ini, Opertion Wallacea, sebuah lembaga penelitian terkenal berbasis Inggris melakukan penelitian di Pulau Hoga berdekatan Wakatobi. Tercatat 750 – 1500 mahasiswa atau sukarelawan meneliti di sana tiap tahun. Hugua menyayangkan Wakatobi lebih terkenal di mancanegera dibandingkan dalam negeri. Hal ini diketahui Hugua saat presentasi di Orlando. "Orang mancanegara saling memberitahu bahwa Wakatobi dekat dengan Bali, bisa ditempuh 2 jam perjalanan pesawat terbang," tandasnya. Ia juga menyayangkan mustinya lembaga penelitian termasuk perguruan tinggi dalam negerilah yang seharusnya melakukan riset di Wakatobi, dan bukan lembaga penelitian asing. Sekaligus membuat konsep pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sana.
Inilah yang mendorong Kabupaten Wakatobi menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam rangka kerjasama bidang penelitian, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Staf Ahli Bappenas Bidang Tata Ruang, Kemaritiman dan Otonomi Daerah, Dr. Son Diamar mengatakan Wakatobi, sangat potensial dikembangkan sebagai wisata bahari. Untuk mengembangkan Wakatobi memerlukan investor. "Kita bisa melelang keunggulan Wakatobi ke investor. Hanya saja perlu diperhatikan jangan sampai, investor asing menguasai 95 persen profitnya," kata Son. Son mengemukakan strategi pembagian profit berkeadilan yakni, 20 persen untuk investor (pengelola profesional), 20 persen pemerintah kabupaten, 20 persen pemerintah propinsi, 20 persen masyarakat (ulayat), dan 20 persen karyawan. Menurut Son, jangan mengulang kesalahan dalam pengelolaan sumberdaya alam Indonesia seperti yang telah lalu.
Workhsop ini menampilkan pembicara lain: Direktur Pemasaran Departemen Budaya dan Pariwisata, Drs.Achyaruddin, SE, Ketua Departemen Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB, dan Ir.Agus Dermawan dari Bidang Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan. Moderator acara ini Wayan Santiaji dari WWF Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut dilakukan penandatanganan Momorandum of Understanding (MoU) antara Bupati Wakatobi, Ir. Hugua dan Rektor IPB, Dr.Ir.Herry Suhardiyanto, M.Sc. (ris)
