Air Laut Dalam Antisipasi Krisis Air
Bumi, planet tempat kita hidup, sering dijuluki sebagai planet air. Julukan itu diberikan, karena Bumi adalah planet yang memiliki air hingga 70 persen di permukaannya.
Namun, apakah dengan melimpahnya air tersebut bisa memenuhi kebutuhan manusia hingga “tak terbatas”? Jawabannya tentu tidak. Harus dicari alternatif sumber-sumber air layak konsumsi. Mengingat saat ini pencemaran lingkungan dan alih fungsi lahan yang menyebabkan kekeringan, mengakibatkan air berkurang dan kurang layak konsumsi.
Adalah peneliti IPB , Prof.Dr. Bonar P Pasaribu, Dr. Djisman M, dan Dr. Jonson L Gaol, mereka peneliti dalam Eksplorasi dan Eksploitasi Air Laut-Dalam (ALD) di Indonesia. Penelitian ini bisa dijadikan sebagai alternatif sumber-sumber air layak konsumsi selain di darat. Di dalam Coffe Morning yang diselenggarakan oleh Bidang Humas SE IPB, (6/10), Prof. Bonar P Pasaribu, dan Dr. Jonson L Gaol memaparkan penelitiannya itu.
Dr. Jonson memaparkan, bahwa air laut-dalam (ALD) dengan kandungan mineralnya ini setelah diolah dengan baik, sangat penting dan bermanfaat untuk suplai air minum bagi kelangsungan hidup dan kesehatan tubuh manusia.
“Penyediaan air mineral laut-dalam ini juga merupakan suatu kegiatan yang bersifat strategis untuk mengantisipasi kemungkinan krisis air bersih di masa mendatang. ALD setelah melalui proses desalinasi, juga memberi hasil sampingan, yaitu garam berkualitas tinggi. Disamping itu ALD dapat diaplikasikan untuk berbagai kegunaan, yaitu untuk budidaya perikanan, budidaya pertanian, bahan kosmetik, obat-obatan, spa dan sebagai pendingin ruangan,” paparnya.
Menurutnya, salah satu kelebihan ALD ini adalah mengandung mineral yang sangat kaya dan dibutuhkan oleh tubuh manusia. Berbeda dengan air murni dalam kemasan yang tidak mengandung mineral.
Karena manfaatnya yang sangat baik, maka industri ALD telah berkembang di Hawaii dan Jepang sejak sekitar 20 tahun silam, dan sejak sekitar 5 tahun yang lalu Korea Selatan, Taiwan, dan India juga telah mengembangkan industri ALD ini.
“Di Jepang sendiri terdapat 13 merek air mineral laut-dalam sebagai Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang beredar di pasaran hingga sekarang.,” katanya.
Dikatakannya, ALD disedot dari kedalaman lebih dari 300 meter. Lapisan ini berada di bawah lapisan termoklin dan juga di bawah lapisan eufotik. Air di kedalaman sekitar 300 meter ini suhunya berkisar 10 derajat celcius, bersih, kaya nutrient, kaya mineral, dan stabil.
Kondisi ALD ini berbeda dengan air laut di permukaan (di lapisan zona eufotik) yang sangat dipengaruhi proses yang terjadi di lapisan permukaan seperti fotosintesis, pencemaran, suspense sedimen dan blooming alga. Dengan demikian ALD sangat layak untuk dijadikan sebagai sumber air minum.
Sementara itu, berdasarkan pengalaman Prof. Bonar Pasaribu yang menimba ilmu selama 8 tahun di Jepang dan melihat perkembangan industri maritim di sana sejak 35 tahun yang lalu membuatnya terinspirasi tidak hanya mengembangkan pendidikan ilmu dan teknologi kelautan di Indonesia, tetapi juga mengembangkan industri maritim. Salah satunya adalah industri ALD.
Bekerjasama dengan Mr. Kimiya Homma, kolega danri almamaternya (Universitas Tokai, Jepang), mereka merintis industri ALD di Bali.
“Setelah hampir dua tahun melakukan kajian, maka tahun ketiga telah mulai dibangun industri ALD di Bali,” kata Prof Bonar.
Industri yang dibangun ini menurutnya masih dalam skala laboratorium untuk menghasilkan seribu liter air mineral laut-dalam per hari. Setelah melakukan pengujian laboratorium dan memperoleh berbagai perizinan, maka saat ini air mineral laut-dalam dalam bentuk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang pertama di Indonesia telah siap didistribusikan ke masyarakat.
Produk AMDK ini di bawah PT Omega Tirta Kyowa dengan merek dagang “Oceanis” telah dimulai dipasarkan di Pulau Bali. (man)
