Asah Ingatan Lansia PWK Lewat Permainan Teka-Teki dan Ular Tangga, Tim Mahasiswa IPB Gelar “Menyala Nalar”

Asah Ingatan Lansia PWK Lewat Permainan Teka-Teki dan Ular Tangga, Tim Mahasiswa IPB Gelar “Menyala Nalar”

asah-ingatan-lansia-pwk-lewat-permainan-teka-teki-dan-ular-tangga-tim-mahasiswa-ipb-gelar-menyala-nalar
Pengabdian Masyarakat / Student Insight

Mahasiswa IPB University yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) tim Menyala Pantiku menggelar rangkaian kegiatan bertajuk “Menyala Nalar” di Panti Wredha Kamilus (PWK), Bogor. Program ini dirancang untuk menstimulasi dimensi intelektual para lansia penghuni panti melalui pendekatan permainan yang interaktif dan menyenangkan. 

Dalam pelaksanaannya, tim menghadirkan tiga bentuk permainan utama, yaitu teka-teki silang yang dikemas dalam format cerdas cermat kelompok, permainan estafet bola serta permainan ular tangga bertema “Ular Tangga Sapa Memori” yang dirancang untuk melatih daya ingat, konsentrasi dan, kemampuan komunikasi verbal sembari membangkitkan kenangan lama para lansia. 

Ketiga permainan ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh oma-oma penghuni panti. Menurut mereka, baik jenis permainan maupun cara pengemasannya dinilai menarik dan tidak membosankan, sehingga mendorong keterlibatan aktif sepanjang kegiatan berlangsung. 

Menurut Fatma Hasanah, salah satu anggota tim mahasiswa, teka-teki silang yang dimainkan secara berkelompok mendorong lansia untuk saling berdiskusi, mengingat kembali kosakata maupun pengetahuan yang dulu pernah dipelajari dan diingat, sekaligus melatih kemampuan berpikir asosiatif mereka. 

Sementara itu, permainan ular tangga “Sapa Memori” dirancang dengan kotak-kotak bertema kenangan, sehingga setiap kali peserta berhenti pada kotak tertentu, ia diajak untuk menceritakan kembali potongan pengalaman hidupnya. 

Permainan estafet bola dimainkan dengan cara mengestafetkan bola sambil mengikuti tempo musik. Format permainan yang dikemas ringan dan tidak menggurui ini menjadi salah satu kunci mengapa para lansia tetap antusias mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir sesi. 

Fatma berujar, pendekatan permainan dipilih tim bukan tanpa alasan. Stimulasi berbasis aktivitas kognitif dan sosial dinilai efektif untuk membantu lansia mempertahankan daya ingat, konsentrasi, serta kelancaran komunikasi verbal, tiga aspek yang umum mengalami penurunan seiring bertambahnya usia.

Selain manfaat kognitif, permainan kelompok semacam ini juga membuka ruang interaksi sosial antarlansia yang selama ini terbatas di lingkungan panti, sekaligus menjadi sarana bagi mereka untuk merasa dilibatkan dan dihargai. 

“Kegiatan Menyala Nalar menjadi bagian dari rangkaian program yang lebih besar, yang nantinya akan menghasilkan sejumlah luaran, termasuk buku antologi nilai kehidupan lansia berbasis ko-kreasi berjudul Menyala Lansiaku: Selepas Waktu,” ujar Fatma.

Program ini turut didampingi oleh Dr Ninuk Purnaningsih, dosen Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB University.

Ke depan, ia dan tim berharap capaian dari Menyala Nalar dapat direplikasi lebih luas melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, dan media, sejalan dengan skema keberlanjutan program yang telah dirancang sejak awal. 

“Dengan pendekatan yang menempatkan lansia sebagai subjek aktif, bukan sekadar penerima manfaat, program Menyala Nalar diharapkan dapat menjadi model stimulasi intelektual yang dapat direplikasi di panti-panti lansia lain di Indonesia,” harapnya. (*/Rz)