Papan Harapan dan Wayang Nakala: Cara Mahasiswa IPB Hidupkan Cita-Cita Remaja Marjinal Lewat Medium Visual

Papan Harapan dan Wayang Nakala: Cara Mahasiswa IPB Hidupkan Cita-Cita Remaja Marjinal Lewat Medium Visual

papan-harapan-dan-wayang-nakala-cara-mahasiswa-ipb-hidupkan-cita-cita-remaja-marjinal-lewat-medium-visual-
Student Insight

Mengubah mimpi abstrak menjadi sesuatu yang konkret dan dapat digenggam menjadi kunci utama mahasiswa IPB University dalam membangun kepercayaan diri remaja marjinal di permukiman pemulung Klender, Jakarta Timur. 

Lewat program Rekacita, tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) menghadirkan metode visual unik berupa Wayang Nakala dan Papan Harapan sebagai media proyeksi masa depan (future orientation) bagi 15 remaja binaan Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta (YSPIJ). 

Ayesha Nayyara Putri Harsosyo, selaku Koordinator Multimedia dan Branding tim Rekacita, menjelaskan bahwa media visual ini sengaja dirancang sebagai instrumen untuk memupuk keyakinan diri (confidence) dan efikasi diri (self-efficacy) pada remaja. 

“Buat teman-teman remaja di sini, punya cita-cita tinggi kadang bikin bingung karena rasanya terlalu jauh dan mustahil. Nah, lewat Papan Harapan dan Wayang Nakala, kami ingin mimpi itu ada wujudnya, bisa mereka lihat dan pegang langsung. 

Waktu mereka asyik menghias wayang profesinya, sebenarnya mereka sedang menumbuhkan harapan dan rasa yakin dari dalam diri bahwa mereka pasti mampu mencapainya,” tutur Ayesha. 

Media Wayang Nakala ini menggunakan kardus dan stik sebagai kerangka dasar (template) bentuk wayang manusia. Setelah struktur dasarnya siap, para remaja dibebaskan untuk mengkreasikan wayang sesuai dengan atribut profesi yang ingin mereka raih. 

Selain melatih kreativitas, karya ini dipadukan dengan Papan Harapan yang berfungsi sebagai visual reminder jangka panjang. Keberadaan pengingat visual ini krusial untuk menjaga dorongan menabung dan menekan gaya hidup konsumtif remaja demi mencapai tujuan masa depan mereka. 

Prosesnya tidak berhenti pada pembuatan karya seni semata. Dalam sesi bertajuk “Keberanian Nakala”, kelima belas remaja tersebut secara bergantian maju ke depan untuk mempresentasikan Papan Harapan dan wayang profesi buatan mereka. 

Sesi unjuk gigi ini menjadi momen krusial untuk melatih kontrol diri (control), menekan rasa malu, dan menggaungkan cita-cita mereka secara lantang di hadapan teman-temannya.

Sinergi pendekatan life design berbasis seni dan proyek kreatif ini membuktikan bahwa pendidikan karakter dan pembentukan mentalitas mandiri bagi remaja di kawasan marjinal dapat dilakukan secara nyata, tanpa terjebak pada teori formal semata. (*/Rz)