Revolusi Kopi IPB University dan UM Ubah Limbah Kopi dan Ternak Menjadi Energi Bersih di Sumberdem

Revolusi Kopi IPB University dan UM Ubah Limbah Kopi dan Ternak Menjadi Energi Bersih di Sumberdem

revolusi-kopi-ipb-university-dan-um-ubah-limbah-kopi-dan-ternak-menjadi-energi-bersih-di-sumberdem
Berita / Pengabdian Masyarakat

Tim Revolusi Kopi dari IPB University dan Universitas Negeri Malang (UM) menggelar instalasi dan pelatihan penggunaan biodigester di Desa Sumberdem, Kabupaten Malang (20/9). Teknologi ini memanfaatkan kulit kopi dan kotoran ternak sebagai bahan baku biogas sekaligus menghasilkan bio-slurry yang dapat dimanfaatkan kembali untuk pertanian.

Implementasi biodigester menjadi salah satu langkah Revolusi Kopi dalam membangun ekosistem kopi yang lebih berkelanjutan. Biodigester tipe kantong (bag digester) yang digunakan relatif sederhana, portabel, serta mudah dipasang dan dipelihara. Melalui proses anaerobik, bahan organik dikonversi menjadi biogas sebagai sumber energi, sekaligus menghasilkan bio-slurry yang berpotensi dikembalikan ke lahan sebagai pupuk organik.

Ketua tim Revolusi Kopi, Dr Yessie Widya Sari dari Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar transfer teknologi. “Melalui Revolusi Kopi, kami berharap dapat membangun ekosistem kopi yang lebih berkelanjutan, tetapi solusinya benar-benar lahir, diuji, dan dikembangkan bersama masyarakat,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menempatkan Desa Sumberdem sebagai living lab, tempat perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah, dan mitra lainnya melakukan pembelajaran serta pengembangan solusi secara bersama. Instalasi dan pelatihan biodigester mendapat dukungan su-re.co (Sustainability & Resilience), organisasi berbasis di Bali yang bergerak pada riset dan implementasi solusi keberlanjutan dan ketahanan iklim.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek), inisiatif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program tersebut menggunakan pendekatan living lab untuk menjembatani hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat melalui ko-kreasi, pengujian, dan adopsi inovasi. Pada periode 2025–2026, sebanyak 122 tim periset terpilih sebagai penerima Program Bestari Saintek.

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kemdiktisaintek, Prof Yudi Darma, mengapresiasi kolaborasi multipihak dalam Revolusi Kopi. Ia mendorong masyarakat dan kelompok tani aktif menyampaikan persoalan di lapangan. 

“Bapak-Ibu jangan sungkan menyampaikan kalau ada masalah di lapangan. Sampaikan kepada tim IPB dan UM. Justru dari persoalan-persoalan itulah kita dapat mencari solusi bersama melalui sains dan teknologi,” pesannya kepada para perserta saat menghadiri kegiatan pelatihan.

Kepala Desa Sumberdem, Purwati, SE, berharap program ini berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Kami berharap kegiatan Revolusi Kopi tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi masyarakat Sumberdem, termasuk dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ke depan, pembelajaran dari biodigester akan dikembangkan bersama masyarakat dan diintegrasikan dengan ketertelusuran digital kopi, penguatan kelembagaan dan kapasitas SDM, pemanfaatan residu kopi, serta pengembangan ekonomi sirkular desa. (*/Rz)