Tidur di Rumah Warga Baduy, Begini Cara Mahasiswa Pascasarjana IPB University Belajar Ketahanan Keluarga

Tidur di Rumah Warga Baduy, Begini Cara Mahasiswa Pascasarjana IPB University Belajar Ketahanan Keluarga

tidur-di-rumah-warga-baduy-begini-cara-mahasiswa-pascasarjana-ipb-university-belajar-ketahanan-keluarga
Berita

Mahasiswa pascasarjana IPB University mengikuti program Pembelajaran Menyenangkan bagi Orang Dewasa dengan menginap langsung di rumah warga Kampung Baduy Luar, Sabtu–Minggu, (12–13/9).

Pembelajaran lapang ini dikoordinasi langsung oleh Prof Euis Sunarti, Koordinator Mata Kuliah Ketahanan dan Kebijakan Keluarga (S3), Mata Kuliah Dinamika Keluarga (S2), serta Mata Kuliah Ketahanan Keluarga (S2) Program Studi Ilmu Keluarga FISEMA IPB University. Kegiatan diikuti 36 mahasiswa S2 dan 7 mahasiswa S3, didampingi Dr Defina, Rahmi Damayanti, SSi, MSi, dan Muhammad Fikri Maulana, SAg, MPsi.

Setiap kelompok mahasiswa ditempatkan di kampung yang berbeda-beda, yaitu Kaduketug 1, Kaduketug Gede, Legojeruk, dan Gajeboh. Mereka makan dan menikmati kebersamaan dengan keluarga di sana. 

“Selama di lapangan, mereka tidur di rumah warga sehingga mahasiswa dapat berinteraksi dengan penduduk lokal dan mendalami konsep-konsep ketahanan keluarga dan dinamika keluarga pada masyarakat Baduy,” tutur Prof Euis.

Di setiap kampung, satu kelompok mewawancarai dua keluarga dengan tema berbeda. Tema mencakup sistem nilai dan adat sebagai landasan kehidupan keluarga Baduy; digitalisasi dan penetrasi teknologi dalam keluarga; fertilitas, struktur keluarga, dan regenerasi masyarakat Baduy; perubahan iklim, risiko bencana, dan kesiapsiagaan keluarga; perubahan mata pencaharian dan ketahanan ekonomi keluarga; pariwisata dan komersialisasi budaya; pengasuhan, pendidikan anak, dan aspirasi generasi muda; interaksi keluarga; hingga kesehatan dan pola hidup bersih sehat (PHBS).

“Dengan menginap di rumah penduduk, mahasiswa lebih mendalami kehidupan masyarakat, masak bersama, berinteraksi dengan anak-anak dengan menggunakan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia,” terang Prof Euis. (*/Rz)