Kartu ‘Binalar’ Jadi Pemantik, Tim PKM IPB Ajak Remaja Panti Asuhan Tuangkan Rasa Lewat Narrative Arts Therapy

Kartu ‘Binalar’ Jadi Pemantik, Tim PKM IPB Ajak Remaja Panti Asuhan Tuangkan Rasa Lewat Narrative Arts Therapy

kartu-binalar-jadi-pemantik-tim-pkm-ipb-ajak-remaja-panti-asuhan-tuangkan-rasa-lewat-narrative-arts-therapy
Student Insight

Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) IPB University, melalui program Binalar, mengajak remaja Yayasan Rumah Cahaya Cendekia (YRCC) mengenali dan mengekspresikan pengalaman emosional kedukaan melalui pendekatan Narrative Arts Therapy yang memadukan seni lukis, kartu afirmasi, refleksi, dan eksplorasi alam di lingkungan IPB. 

“Binalar hadir karena remaja yang kehilangan orang tua perlu beradaptasi dengan rasa duka dan adaptasi lingkungan panti asuhan. Lewat seni, kami ingin menemani mereka mengenali dan menuangkan perasaan dengan cara yang nyaman,” ujar Karima Nur Maulida selaku ketua tim Binalar.

Ngawarnaan Rasa hadir sebagai aktivitas seni lukis yang mengajak peserta menuangkan pengalaman emosional dan refleksi duka melalui lukisan di atas kanvas.

Sebelum mulai melukis, peserta diberikan kartu afirmasi Binalar sebagai pemantik bagi peserta untuk mengenali perasaan yang sedang dirasakan. Peserta kemudian bebas menerjemahkan rasa tersebut ke dalam lukisan. Kartu tersebut berisi pesan untuk menerima perasaan, menghargai diri sendiri, dan meyakini bahwa setiap orang memiliki proses pemulihan yang berbeda.

Suasana reflektif kemudian berlanjut melalui Mapay Alam di lingkungan IPB. Peserta diajak menyusuri alam secara berkelompok dan mencari tanaman yang sesuai dengan kartu tanaman yang mereka dapatkan. Tanaman yang ditemukan kemudian menjadi bagian dari refleksi peserta mengenai perjalanan diri. 

Salah satu kakak pengurus YRCC, Andi, mengapresiasi kegiatan Binalar yang dinilai memberikan ruang baru bagi remaja untuk mengekspresikan perasaan mereka. Menurutnya, kegiatan yang memadukan seni dan alam membuat peserta lebih nyaman untuk terlibat dan bercerita.

“Saya melihat mereka sangat menikmati kegiatannya. Mereka bisa mengekspresikan apa yang dirasakan lewat gambar dan warna, sekaligus belajar memaknai pengalaman mereka,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan oleh MD, peserta Binalar berusia 14 tahun. Ia mengaku senang mengikuti kegiatan karena dapat menuangkan perasaan melalui lukisan dan menemukan makna dari tanaman.

“Aku senang karena bisa gambar sesuai perasaan sendiri. Ternyata dari tanaman juga bisa belajar tentang diri sendiri,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses Binalar dalam menghadirkan ruang bagi remaja untuk mengenali, mengekspresikan, dan memaknai pengalaman emosional melalui cara yang dekat dengan mereka. Setiap warna, cerita, dan pengalaman yang mereka temukan diharapkan dapat menjadi langkah kecil untuk lebih mengenal diri, menerima perasaan, dan terus bertumbuh. (*/Rz)