Aksi Dosen IPB University di Kasembon Malang Ajak Petani dan Peternak Budi Daya Katuk

Aksi Dosen IPB University di Kasembon Malang Ajak Petani dan Peternak Budi Daya Katuk

aksi-dosen-ipb-university-di-kasembon-malang-ajak-petani-dan-peternak-budi-daya-katuk
Berita / Pengabdian Masyarakat

Tim dosen IPB University hadir di Desa Kasembon, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang (14/8) untuk menyelenggarakan Sosialisasi Budi Daya Tanaman Katuk sebagai Bahan Baku Inovasi Katulac®.

Diketuai oleh Prof drh Agik Suprayogi (Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis), didampingi Dr Efi Toding Tondok, (Fakultas Pertanian) dan Dr Afton Atabany (Fakultas Peternakan), kegiatan ini dihadiri 15 petani/peternak pemilik lahan yang siap mencoba menanam tanaman katuk.

“Program ini bertujuan untuk memperkenalkan tanaman katuk sebagai komoditas yang memiliki nilai ekonomi bagi para petani dan peternak, sekaligus mendorong munculnya petani pelopor budi daya tanaman katuk di wilayah Kecamatan Kasembon,” ungkap Prof Agik.

Menurut dia, sosialisasi sangat penting dilakukan mengingat masyarakat di Kabupaten Malang, khususnya di Kasembon belum banyak mengenal tanaman katuk dan manfaatnya bagi manusia maupun ternak. 

“Hal ini sangat disayangkan mengingat banyak lahan yang bisa dioptimalkan sebagai penyedia daun katuk kering untuk bahan baku produksi Katulac®,” menurut Agik yang juga inovator Katulac®. 

Katulac® sendiri merupakan inovasi daun katuk yang telah dipolarisasi sebagai feed aditif bagi ternak ruminansia.

Kusnanto petani pelopor di Desa Kasembon, mengaku awalnya ragu untuk menanam katuk karena belum mengetahui manfaat dan nilai ekonominya. 

“Sebagian besar dari kami di Kasembon tidak mengenal tanaman katuk sebagai tanaman yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi.

“Saya sudah mencoba sejak tahun 2023 dari Prof Agik. Awalnya ragu, apakah benar tanaman ini ada yang membeli. Setelah saya nekat coba, hampir setiap bulan bisa panen dan menghasilkan daun katuk kering yang bisa saya jual ke Bogor untuk bahan Katulac®,” kata dia.

Ia menambahkan, “Saya senang ada kegiatan ini, IPB hadir bisa mengajak petani/peternak lain di wilayah ini agar tertarik budi daya tanaman latuk.”

Dalam momen tersebut, tim dosen juga mengajak peserta mengunjungi kebun katuk Kusnanto. “Saya baru mengetahui kalau ini adalah tanaman katuk. Saya ingin mengembangkan di lahan saya, tolong dibantu pengadaan bibit yang baik dari IPB,” pesan salah satu peserta, Jono.

Di lokasi kebun, Dr Efi menerangkan dan menjawab pertanyaan peserta seputar teknis budi daya dan potensi penyakit katuk. Ia menjelaskan, budi daya tanaman katuk sangat mudah, gampang tumbuh, hampir sama dengan tanam singkong. “Tancapkan stek batang katuk ke lahan yang cukup air dengan jarak tanam bervariasi, bisa 20×30 cm. Pupuk penyubur daun bisa diberikan urea secukupnya saat daun sudah mulai tumbuh,” kata Dr Efi. 

Dr Afton sebagai ahli produksi ternak menambahkan, daun katuk ini bisa bermanfaat bagi ternak ruminansia. “Namun kali ini Bapak-Bapak fokus dulu pada budi daya katuk, mengingat manfaatnya pada ternak harus ada proses sendiri agar dapat dikonsumsi ternak, contohnya Katulac®,” ungkapnya. 

Pada kesempatan sama, produk Katulac® disampaikan ke rumah/kandang peternak. Tim juga menyerahkan bantuan bibit batang katuk secara simbolis pada petani yang hadir.

“Tidak mudah mengajak mereka budi daya katuk karena belum banyak dikenal. Namun dengan adanya kegiatan ini, kami yakin mampu memberikan pencerahan pada mereka. 

Diharapkan tidak terlalu lama wilayah Kasembon ini akan menjadi sumber pemasok bahan baku inovasi IPB yang sampai saat ini menjadi kendala produksi massal. Dan yang terpenting akan muncul pelopor petani katuk lain selain Pak Kusnanto di Kasembon,” ungkap Prof Agik.