Teliti Mekanisme Polusi Menyebar di Atmosfer Pakai Hukum Fisika, Mahasiswa S3 IPB Raih Penghargaan di Tiongkok
Mahasiswa Program Studi Doktor (S3) Departemen Fisika IPB University, Ahmad Ripai, MSi berhasil meraih penghargaan First Prize pada ajang kompetisi riset International Summer School on Climate Change and Related Risks yang diselenggarakan oleh Fudan University, Shanghai, pada 6–23 Juli 2026 lalu. Prestasi ini hasil kolaborasi multidisiplin.
Dalam ajang tersebut, Ripai dan tim membawakan riset berjudul “Impact of Biomass Burning on Air Quality in China: Comparison against WHO Guidelines and National Air Quality Standards”. Riset ini berangkat dari fenomena pembakaran residu pertanian yang rutin terjadi setiap bulan Juni setelah musim panen di North China Plain (NCP).
“Persoalan ilmiah yang ingin kami jawab bukan hanya apakah pembakaran biomassa menyebabkan pencemaran udara, melainkan bagaimana asap hasil pembakaran tersebut ditransportasikan oleh atmosfer hingga memengaruhi kualitas udara di Beijing, serta sejauh mana kebijakan pengendalian pencemaran udara yang diterapkan pemerintah Tiongkok berhasil mengurangi dampaknya,” kata Ripai (6/8).
Ripai menjelaskan bahwa riset ini berfokus melihat bagaimana asap dan polusi udara bergerak serta menyebar di atmosfer. Menggunakan hukum fisika tentang pergerakan udara, polutan diperlakukan sebagai zat yang terbawa oleh angin sekaligus tercampur oleh turbulensi udara. Merekam pola pergerakan ini menjelaskan mengapa polusi tidak hanya berkumpul di lokasi pembakaran, tetapi bisa menyebar luas ke daerah lain mengikuti perubahan musim.
“Lewat kerangka berpikir ini, kami memetakan data titik api, tingkat debu halus, ketebalan asap, gas karbon monoksida, hingga karbon hitam. Data tersebut lalu dihubungkan dengan model pemodelan angin NOAA HYSPLIT untuk melacak dari mana asalnya polusi yang sampai ke Beijing,” ujar Ripai.
Dari analisis tersebut, terungkap bahwa saat polusi berada di titik tertinggi, asap yang menyelimuti Beijing rupanya terbawa angin dari wilayah pertanian di bagian selatan North China Plain yang sedang marak melakukan pembakaran lahan. Temuan ini menyambungkan rantai proses terjadinya polusi, mulai dari pembakaran lahan, pelepasan polutan, terbawa sirkulasi angin, hingga akhirnya memperburuk kualitas udara di Beijing.
“Selain memetakan pergerakan asap, penelitian kami juga menguji seberapa efektif kebijakan lingkungan pemerintah Tiongkok. Data 10 tahun terakhir (2013–2023) menunjukkan adanya penurunan polusi yang cukup drastis, menandakan kebijakan di sana mulai membuahkan hasil,” katanya.
“Walau sudah memenuhi standar nasional Tiongkok saat musim panas, tingkat kebersihan udaranya ternyata masih menjadi tantangan untuk bisa memenuhi standar WHO (World Health Organization) yang jauh lebih ketat,” tambah Ripai.
Berkat Iklim Riset di Kampus
Capaian gemilang tersebut lahir dari iklim akademik dan pembinaan riset mendasar yang sangat kuat di Departemen Fisika IPB University. Tradisi berdiskusi first principles thinking di Divisi Fisika Teoretik Departemen Fisika IPB University membuat mahasiswa terbiasa berpikir kritis dari fondasi hukum alam yang paling mendasar.
“Pengalaman saya selama mengikuti International Summer School on Climate Change and Related Risks di Fudan University semakin menguatkan pandangan saya tentang pentingnya riset-riset teoritis, khususnya fisika teoretis,” pungkasnya. (MHT)
