Catat Sejarah, IPB University Jadi Perguruan Tinggi Pertama yang Lepas Liarkan Rusa Timor Hasil Penangkaran
IPB University kembali menunjukkan peran aktifnya dalam pelestarian keanekaragaman hayati melalui pelepasliaran 10 ekor rusa timor (Rusa timorensis) ke Suaka Margasatwa Cikepuh, Kabupaten Sukabumi (14/7).
Sepuluh rusa timor tersebut merupakan hasil penangkaran Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE), Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (FAHUTAN) IPB University di Taman Hutan Kampus IPB Dramaga.
Kegiatan ini menjadi pelepasliaran rusa pertama yang dilakukan secara langsung oleh institusi pendidikan tinggi di Indonesia sebagai bentuk nyata penguatan konservasi dari pendekatan ex situ menuju in situ.
Kepala Departemen KSHE IPB University, Dr Nyoto Santoso, menjelaskan bahwa keberhasilan pelepasliaran tersebut merupakan hasil kolaborasi jangka panjang antara IPB University, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, United Tractors, serta pemerintah setempat.
Menurutnya, dukungan berbagai pihak telah memungkinkan pengembangan penangkaran, mulai dari perbaikan kandang hingga peningkatan kualitas perawatan satwa.
“Kolaborasi ini menunjukkan bahwa konservasi tidak dapat dilakukan sendiri. Sinergi perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk menghadirkan kembali satwa liar di habitat alaminya,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelepasliaran ini tidak hanya mengembalikan rusa ke alam, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memulihkan populasi satwa yang pernah menghuni kawasan Cikepuh.
“IPB University juga akan terus melakukan pemantauan melalui kegiatan penelitian mahasiswa guna memastikan perkembangan populasi rusa di habitat alaminya,” ujarnya.
Human Capital, Communications and Sustainability Director of United Tractors, Ari Sutrisno, mengatakan pelepasliaran tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan program tanggung jawab sosial di bidang lingkungan melalui program UTrees.
Ia berharap rusa yang dilepasliarkan dapat berkembang biak sehingga mampu memperkuat keseimbangan ekosistem di kawasan konservasi.
“Program ini adalah bentuk gerak bersama atau moving as one. Kami percaya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat akan menghasilkan dampak yang lebih besar bagi kelestarian lingkungan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang KSDA Wilayah I BBKSDA Jawa Barat, Wawan Sukawan, menegaskan bahwa pelepasliaran satwa menjadi langkah strategis dalam meningkatkan populasi satwa liar melalui proses restocking.
Ia menekankan bahwa keberhasilan konservasi tidak berhenti pada pelepasliaran, melainkan harus diikuti dengan perlindungan habitat dan pengawasan berkelanjutan.
“Alam merupakan rumah terbaik bagi satwa liar. Tugas kita bersama adalah memastikan habitat tersebut tetap lestari sehingga satwa yang dilepasliarkan dapat hidup, berkembang biak, dan kembali menjadi bagian penting dari keseimbangan ekosistem,” ujarnya. (dr)
