Populasi Menurun, Guru Besar IPB University: Pelestarian Kerbau Perlu Dimulai dari Budaya
Di balik modernisasi pertanian, keberadaan kerbau di Indonesia semakin terdesak. Padahal, hewan yang selama berabad-abad menjadi sahabat petani sekaligus bagian dari berbagai tradisi nusantara ini menyimpan nilai sejarah, budaya, dan ekonomi yang penting.
Guru Besar IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, menilai pelestarian kerbau akan lebih efektif apabila dilakukan melalui penguatan budaya dan tradisi masyarakat.
Menurut Prof Ronny, faktor utama yang menyebabkan penurunan populasi kerbau adalah mekanisasi pertanian yang membuat traktor menggantikan peran kerbau sebagai tenaga kerja. Selain itu, alih fungsi lahan akibat urbanisasi turut mengurangi habitat sawah dan rawa yang menjadi lingkungan hidup kerbau.
“Peternak merasa bahwa minat generasi muda untuk beternak kerbau cenderung menurun karena dianggap kurang menguntungkan. Sebaliknya, kebijakan pemerintah lebih fokus pada sapi potong dan unggas, yang mungkin membuat generasi muda lebih tertarik karena potensi keuntungan yang lebih jelas,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai revitalisasi budaya dan tradisi yang berkaitan dengan kerbau menjadi kunci penting untuk menjaga keberlanjutan populasinya. Upaya tersebut perlu didukung penggunaan inseminasi buatan dan pemuliaan genetik guna meningkatkan kualitas dan keberagaman genetik populasi.
“Usahakan mengembangkan ekonomi dengan menambah produk berbasis kerbau, seperti susu, daging, dan kerajinan dari tanduk, agar lebih kompetitif. Di masyarakat, penting untuk memperkenalkan edukasi sejak dini melalui festival budaya, kurikulum lokal, dan wisata edukasi yang menarik. Perluas kawasan konservasi agar habitat kerbau rawa di daerah endemik tetap terlindungi dan lestari,” ujar Prof Ronny.
Ia menambahkan, konservasi berbasis budaya lebih efektif karena masyarakat memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap kerbau.
“Konservasi kerbau lewat jalur budaya lebih dekat karena ikatan emosional. Kerbau bukan sekadar ternak, tetapi juga bagian dari identitas bersama. Tradisi adat mengajak komunitas untuk berpartisipasi secara sukarela sehingga memperkuat kebersamaan. Budaya ini membangun komitmen dan meneguhkan nilai-nilai masyarakat. Ritual kerbau menarik secara budaya dan mendukung ekonomi lokal secara bermakna,” jelasnya.
Domestikasi dan Warisan Budaya
Prof Ronny menjelaskan bahwa kerbau (genus Bubalus) berasal dari nenek moyang Bovidae di Asia sekitar 1–2 juta tahun lalu. Proses domestikasinya dimulai sekitar 5.000–6.000 tahun lalu di Asia Selatan, kemudian menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Nusantara, melalui jalur perdagangan dan migrasi.
“Kerbau masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan dari India dan Indochina, dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan sejak berabad-abad lalu. Digunakan sebagai tenaga di sawah, simbol status, dan hewan kurban ritual, kerbau adalah bagian dari sejarah dan budaya kita,” ujarnya.
Menurut Prof Ronny, sebelum traktor digunakan secara luas, kerbau merupakan tulang punggung pertanian. Berbagai tradisi seperti memandikan kerbau sebelum musim tanam, upacara Rambu Solo di Tana Toraja, Kwangkey masyarakat Dayak, hingga simbol kerbau dalam budaya Minangkabau menunjukkan bahwa kerbau memiliki makna yang jauh melampaui fungsi ekonominya.
Selain menghadapi penurunan populasi, kerbau juga rentan terhadap berbagai penyakit, seperti Septicaemia Epizootica, MCF, Surra, Fasciolosis, dan Enterotoxemia. Kondisi lingkungan rawa, keberadaan serangga vektor, serta pengelolaan kandang yang belum optimal turut meningkatkan risiko penyakit.
“Kerbau adalah bagian berharga dari warisan budaya Indonesia yang telah lama kita junjung tinggi. Meski jumlahnya menurun akibat modernisasi dan perubahan sosial, melestarikan kerbau melalui tradisi, ritual, dan nilai-nilai simbolis adalah cara terbaik agar kerbau tetap menjadi bagian dari identitas bangsa,” tutup Prof Ronny. (*/Rz)
