Dosen IPB University Ungkap Penyebab Gelombang Panas Ekstrem di Eropa dan Potensinya di Indonesia
Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian dunia. Suhu yang menembus rekor di berbagai wilayah memunculkan pertanyaan mengenai penyebab fenomena tersebut serta sejauh mana kaitannya dengan perubahan iklim global.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, menjelaskan bahwa gelombang panas di Eropa tidak disebabkan oleh satu faktor saja.
“Fenomena ini merupakan hasil interaksi antara pemanasan daratan yang luas pada musim panas dengan perambatan gelombang Rossby di atmosfer lintang menengah, di mana Eropa berada pada zona wilayah ini,” jelasnya.
Ia menerangkan, gelombang Rossby merupakan gangguan atmosfer berskala besar yang memengaruhi pola tekanan udara, angin, dan suhu di wilayah lintang menengah. Gelombang ini memiliki panjang sekitar 4.000 hingga 6.000 kilometer dan terbentuk ketika angin baratan melintasi pegunungan besar, seperti Pegunungan Rocky di Amerika Utara dan Pegunungan Andes di Amerika Selatan.
“Saat musim panas di belahan bumi utara, posisi matahari menyebabkan daratan mengalami pemanasan maksimum. Karena daratan memiliki kapasitas menyimpan panas yang lebih rendah dibandingkan lautan, suhu udara di atasnya meningkat lebih cepat. Pemanasan berskala benua tersebut kemudian memperkuat gangguan suhu yang dibawa gelombang Rossby hingga memicu terjadinya gelombang panas,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut semakin diperparah oleh melemahnya aktivitas gelombang Rossby pada musim panas. Pergerakan gelombang yang lebih lambat membuat massa udara panas bertahan lebih lama di suatu wilayah. Situasi ini diperkuat oleh fenomena Omega Block, yakni pola tekanan tinggi yang menjebak udara panas sehingga suhu ekstrem dapat berlangsung selama beberapa hari bahkan lebih lama.
“Pada musim panas, gelombang Rossby bergerak lebih lambat sehingga medan suhu tinggi bertahan lebih lama pada satu wilayah. Ditambah adanya fenomena Omega Block, udara panas menjadi terperangkap sehingga gelombang panas berlangsung lebih lama,” ujarnya.
Menanggapi anggapan bahwa meningkatnya frekuensi gelombang panas merupakan bukti langsung perubahan iklim, ia menilai hal tersebut perlu dikaji secara ilmiah dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer alami.
“Dinamika atmosfer alami tetap harus menjadi bagian penting dalam analisis sebelum menyimpulkan pengaruh perubahan iklim terhadap suatu kejadian panas ekstrem,” katanya.
Bagaimana dengan Indonesia?
Meski terjadi di Eropa, fenomena tersebut memiliki hubungan dengan sistem iklim global melalui mekanisme telekoneksi, yaitu keterkaitan antarkawasan yang dipengaruhi oleh sirkulasi atmosfer berskala besar.
“Ada kaitannya walaupun tidak secara langsung, misalnya melalui telekoneksi antara Madden-Julian Oscillation (MJO) dengan sirkulasi atmosfer di wilayah ekstratropis,” jelasnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, Indonesia juga berpotensi mengalami peningkatan kejadian suhu panas pada masa mendatang. Namun, karakteristiknya berbeda dengan gelombang panas di Eropa. Di Indonesia, suhu panas ekstrem lebih banyak dipicu oleh perubahan penggunaan lahan dan efek urban heat island yang umum terjadi di kawasan perkotaan.
“Indonesia berpeluang mengalami peningkatan suhu ekstrem, tetapi tidak seperti di Eropa. Faktor yang lebih dominan adalah perubahan fungsi lahan sehingga wilayah yang paling rentan adalah kota-kota besar,” ungkapnya.
Sebagai langkah adaptasi, ia mendorong pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat upaya penghijauan melalui reboisasi, penanaman pohon, serta pengendalian alih fungsi lahan. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengurangi peningkatan suhu permukaan sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim.
“Walaupun Indonesia tidak mengalami gelombang panas seperti di Eropa, adaptasi tetap perlu dilakukan melalui reboisasi, penanaman pohon, dan pengaturan alih fungsi lahan agar dampak peningkatan suhu dapat diminimalkan,” pungkasnya. (AS)
