Kenali Tanda-Tanda Kucing Alami Gangguan Ginjal, Ahli IPB University Bagikan Tips Pencegahan dan Penanganannya
Gangguan ginjal menjadi penyakit kronis paling umum pada kucing usia lanjut, mengalahkan diabetes dan penyakit jantung dalam hal prevalensi. Penyakit ini meliputi penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease/CKD) dan batu ginjal (nefrolitiasis) yang dapat menjadi masalah serius jika tidak ditangani segera.
“Gangguan ginjal pada kucing dapat disebabkan oleh toksin (seperti lili, antifreeze, dan obat-obatan manusia), infeksi, trauma, serta penyakit lain seperti hipertiroidisme dan hipertensi,” kata Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor.
Prof Ronny mengatakan, gejala gangguan ginjal pada kucing berkembang secara perlahan dan muncul ketika fungsi ginjal menurun secara signifikan. Tanda umumnya mencakup sering minum, perubahan pola buang air, masalah pencernaan, gusi kering, kulit kurang elastis, mata cekung, penurunan berat badan, muntah, serta napas berbau amonia.
Ia menyarankan pemilik kucing memeriksa tanda awal gangguan ginjal yang tidak tampak. Penting melakukan tes darah dan urine secara rutin, terutama pada kucing di atas tujuh tahun untuk menjaga kesehatan dan penanganan yang tepat waktu.
“Untuk memahami gangguan ginjal yang berkembang perlahan dan sering tidak menunjukkan gejala, pemilik kucing disarankan untuk memantau perubahan pola minum dan buang air kecil. Jika ada peningkatan signifikan, segera konsultasi dengan dokter hewan untuk penanganan yang tepat,” ujar Prof Ronny.
Prof Ronny memberikan langkah-langkah sebagai upaya mencegah gangguan ginjal pada kucing kesayangan. Pertama, pastikan kucing tetap terhidrasi dengan menyediakan air segar atau air mengalir seperti water fountain, serta berikan makanan basah untuk meningkatkan asupan air. Langkah ini penting untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan mereka.
Kedua, lakukan pemeriksaan darah dan urine secara rutin setiap 3–6 bulan untuk menjaga kesehatan ginjal kucing. Selain itu, ultrasonografi (USG) ginjal juga disarankan untuk memantau adanya penyakit atau batu, sehingga tindakan yang tepat dapat segera dilakukan.
“Hal lain yang penting adalah bahwa pemilik kucing harus berhati-hati. Hindari memberikan obat untuk manusia, seperti parasetamol atau ibuprofen, karena dapat beracun bagi kucing. Segera periksakan ke dokter jika muncul gejala, karena gejala awal sering kali ringan dan mudah terabaikan. Jangan hanya mengandalkan perubahan diet tanpa berkonsultasi dengan dokter hewan,” kata Prof Ronny.
Sebagai penanganan awal, Prof Ronny menekankan agar pemilik kucing untuk bertindak cepat saat gejala pertama muncul, karena gangguan ginjal pada kucing sering kali tidak menunjukkan gejala hingga kondisinya memburuk. Diagnosis yang cepat, penyesuaian diet, terapi cairan, dan pemeriksaan rutin dapat membantu kucing hidup lebih lama dan tetap nyaman.
“Jika kucing didiagnosis CKD, berikan makanan renal rendah fosfor dan protein berkualitas. Untuk batu ginjal, dokter mungkin menyarankan diet pelarut struvite. Kucing juga bisa mendapatkan saran tentang cairan subkutan, obat antihipertensi, suplemen anemia, atau antibiotik untuk mengobati infeksi. Semua itu dilakukan demi menjaga kesehatan hewan peliharaan dengan perhatian dan perawatan terbaik,” jelas Prof Ronny. (MHT)
