Perubahan Iklim Ancam Produksi Ikan, Prof Agus Oman Sudrajat Tawarkan Solusi Kontrol Hormonal Reproduksi
Perubahan iklim yang ditandai dengan meningkatnya suhu udara dan air menjadi tantangan nyata bagi sektor perikanan budi daya. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi pertumbuhan ikan, tetapi juga dapat mengganggu proses reproduksi yang menjadi fondasi keberlanjutan produksi akuakultur.
Menjawab tantangan tersebut, Prof Agus Oman Sudrajat dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University (27/6), menawarkan teknologi kontrol hormonal reproduksi ikan sebagai solusi untuk menjaga ketersediaan benih dan sumber protein masyarakat.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University ini menjelaskan bahwa reproduksi ikan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Peningkatan suhu akibat perubahan iklim dapat menghambat pelepasan hormon reproduksi sehingga induk ikan gagal mencapai kematangan gonad dan tidak dapat memijah secara optimal.
“Pernah terjadi pada tahun 2017 saat kemarau panjang, banyak induk ikan budi daya di hatchery tidak matang gonad. Akibatnya, produksi benih terganggu. Padahal, semua pengaruh lingkungan pada akhirnya akan diterjemahkan dan direspons oleh hormon di dalam tubuh ikan,” ujarnya.
Dijelaskannya, ketika kondisi lingkungan tidak optimal, hormon-hormon reproduksi tidak diproduksi dalam jumlah yang cukup sehingga proses reproduksi terganggu. Melalui teknologi manipulasi hormonal, hambatan tersebut dapat diatasi sehingga induk ikan tetap mampu bereproduksi secara normal meskipun menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
“Inovasi ini memungkinkan pembenih dan pembudi daya menghasilkan benih sepanjang tahun, tidak lagi bergantung pada musim hujan yang selama ini menjadi periode reproduksi alami sebagian besar ikan tropis. Dengan demikian, pasokan benih dapat terjaga dan mendukung peningkatan produksi ikan budi daya secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Prof Agus menambahkan bahwa teknologi kontrol hormonal reproduksi saat ini tidak lagi terbatas pada industri besar. Produk hasil inovasi tersebut sudah dapat diakses oleh masyarakat luas melalui platform perdagangan daring, sehingga pembudi daya skala kecil pun dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas usaha.
“Saya optimistis penerapan teknologi ini secara luas akan membawa perubahan besar bagi sektor akuakultur Indonesia. Dalam 10 hingga 20 tahun mendatang, produksi ikan budi daya diperkirakan dapat meningkat setidaknya dua kali lipat dengan kemampuan reproduksi yang berlangsung sepanjang tahun,” ucapnya.
Selain itu, menurutnya, produktivitas hatchery akan meningkat, peluang pengembangan spesies budi daya baru semakin terbuka, serta mendukung upaya konservasi melalui produksi benih untuk restocking ikan di perairan alami.
“Kontrol hormonal reproduksi bukan hanya teknologi untuk meningkatkan produksi, tetapi juga instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan pangan, mendukung keberlanjutan akuakultur, dan menjaga keanekaragaman hayati perikanan Indonesia,” pungkasnya. (Lp)
