CEO School IPB University Bekali Ilmu Membangun Bisnis yang Berdampak Sosial dan Berkelanjutan
Di tengah era digital dan krisis lingkungan, bisnis tidak lagi cukup hanya mengejar keuntungan. Dampak sosial dan keberlanjutan kini menjadi kunci.
Melalui rangkaian CEO School yang dicanangkan Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University, peserta dibekali tidak hanya mindset kewirausahaan, tetapi juga kemampuan merancang bisnis yang berdampak sosial dan berkelanjutan.
Berbagai materi strategis disampaikan mulai dari pembentukan pola pikir CEO hingga perancangan social impact project. Pada sesi awal, Entrepreneurship 101 dan The CEO Mindset peserta mendapat pembekalan pentingnya kesiapan mental dalam membangun bisnis.
Fitrah Rachmat Kautsar, CEO Citiasia Inc, menekankan pentingnya memiliki growth mindset, ownership mindset, founder mindset, dan impact mindset dalam membangun bisnis.
Senada, Atep Subandar selaku Founder and CEO Commodity & Infrastructure Utility Company pun menambahkan bahwa pola pikir CEO saat membangun visi, misi, dan strategi bisnis juga berpengaruh terhadap keberlanjutan bisnis.
“Seorang pemimpin bisnis harus mampu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan berbagai konsekuensi serta memiliki pola pikir 360 derajat dalam menghadapi tantangan usaha,” imbuhnya.
Narasumber juga membagikan pengalaman membangun bisnis komoditas kopi dan menekankan pentingnya menjaga relasi, kualitas produk, kontinuitas pasokan, serta komunikasi dengan stakeholder agar bisnis mampu bersaing di pasar internasional.
Tak hanya itu, penyampaian strategi mempertahankan eksistensi produk melalui pemasaran digital dan pemanfaatan media sosial pun menjadi pembahasan interaktif pada sesi diskusi.
Pada sesi berikutnya, fokus beralih pada bagaimana bisnis dapat memberikan dampak nyata. Dalam sesi Designing Social Impact Project, Yunan Isnainye dari BSI Maslahat menjelaskan bahwa proyek sosial harus dirancang berbasis kebutuhan masyarakat melalui observasi, wawancara, hingga analisis data sosial-ekonomi.
Peserta juga diperkenalkan berbagai tools seperti Problem Tree Analysis, SWOT Desa, Stakeholder Mapping, dan Value Chain Mapping untuk memetakan masalah dan solusi secara sistematis. Selain itu, pentingnya value proposition yang jelas, indikator dampak terukur, serta penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) turut ditekankan.
Pada sesi Creating Impact from Land and Sea, Dr Beginer Subhan menjelaskan bahwa sektor agromaritim memiliki potensi besar dalam pengembangan sociopreneurship. Menurutnya, nilai tambah bisnis tidak hanya pada produksi, tetapi juga pada pengolahan, distribusi, dan pemasaran.
Sesi terakhir menyoroti integrasi bisnis dan misi sosial. Bintoro Pujo Prawiro, Founder Dipala Indonesia, menekankan konsep Business First sebagai fondasi utama.
Bisnis harus memiliki core yang kuat sebelum memperluas dampak sosial.
Konsep Triple Bottom Line (profit, people, dan planet) menjadi dasar dalam membangun bisnis berkelanjutan. Salah satu contoh implementasi yang diangkat adalah pengembangan Kopi Arabika Lawu berbasis agroforestri, yang tidak hanya meningkatkan pendapatan petani tetapi juga menjaga lingkungan.
Melalui rangkaian CEO School ini, peserta memahami bahwa kesuksesan bisnis tidak hanya ditentukan oleh ide, tetapi juga eksekusi, pengelolaan tim, adaptasi terhadap perubahan, serta kemampuan mengintegrasikan nilai ekonomi dengan dampak sosial secara berkelanjutan. (*/Rz)
