Perdana 2026, CEO School IPB University Bekali Startup Kepemimpinan Sociopreneurship dan High Performance Team
IPB University melalui program CEO School kembali menghadirkan ruang pembelajaran bagi para calon pemimpin bisnis dan startup melalui pelaksanaan CEO School perdana pada Minggu (10/5).
Kegiatan ini mengangkat dua tema utama, yakni Leadership in Sociopreneurship dan Building High-Performance Teams: A CEO’s Guide, yang bertujuan membangun kapasitas kepemimpinan, pola pikir inovatif, serta kemampuan membangun tim yang adaptif di tengah tantangan dunia usaha yang terus berkembang.
Kegiatan dibuka oleh Dr M Iqbal Irfany yang menekankan pentingnya penguatan karakter kepemimpinan bagi pelaku startup dan wirausaha muda.
Dalam pelaksanaannya, peserta tidak hanya mendapatkan materi teoritis, tetapi juga diajak memahami tantangan nyata dalam membangun bisnis yang berkelanjutan dan berdampak sosial.
Pada sesi pertama, Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari selaku Wakil Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) membawakan materi yang menyoroti peran sociopreneur dalam menciptakan solusi bagi permasalahan sosial dan ekonomi masyarakat.
Sociopreneur dinilai memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan, memperluas akses pasar, hingga mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi.
Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya membangun ekosistem usaha melalui kolaborasi, akses teknologi, pendanaan, mentorship, serta jejaring yang kuat.
Sementara itu, pada sesi kedua, Anton Sukarna selaku PT Bank Syariah Indonesia (BSI) membawakan materi Building High-Performance Teams: A CEO’s Guide yang berfokus pada strategi membangun tim dengan performa tinggi melalui komunikasi, kolaborasi, dan budaya kerja yang sehat. Ia menjelaskan bahwa banyak organisasi gagal berkembang bukan karena kurangnya kompetensi individu, tetapi karena lemahnya koordinasi, motivasi, dan sinergi antaranggota tim.
Dalam materinya, Anton memperkenalkan konsep kepemimpinan “Nata, Nuntun, dan Nagih” sebagai fondasi untuk membangun organisasi yang efektif. Nata berarti kemampuan leader dalam menentukan arah strategi dan prioritas kerja.
“Nuntun berkaitan dengan membimbing serta memberdayakan tim, sedangkan nagih menekankan pentingnya evaluasi performa dan pencapaian target secara konsisten,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, berbagai isu turut dibahas, mulai dari transformasi digital di sektor pertanian hingga pentingnya kemampuan komunikasi dan keberanian mengambil tanggung jawab sebagai seorang pemimpin.
Materi ini menegaskan bahwa future leader tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga perlu memperhatikan aspek people, planet, dan sustainability. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya IPB University dalam mencetak generasi entrepreneur dan startup leader yang siap menghadapi tantangan bisnis di era transformasi digital dan ekonomi berkelanjutan. (*/Rz)
