Nathan Rusli Edukasi Penanganan Konflik Ular di Kampus IPB University

Nathan Rusli Edukasi Penanganan Konflik Ular di Kampus IPB University

nathan-rusli-edukasi-penanganan-konflik-ular-di-kampus-ipb-university.jpg
Berita

Ahli herpetofauna sekaligus Executive Director Indonesia Herpetofauna Foundation, Nathan Rusli memberikan edukasi penanganan konflik ular dengan manusia di lingkungan IPB University, Bogor, Jumat (25/4). 

Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) bersama Kantor Manajemen Keamanan, Keselamatan, dan Perlindungan Kampus (KMKKPK) IPB University. Diikuti dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa IPB University yang mengikuti mata kuliah Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

Dalam pemaparannya, Nathan menjelaskan bahwa ketakutan terhadap ular sering kali bersifat “risiko semu”, yakni rasa takut berlebihan yang tidak selalu sebanding dengan ancaman nyata. Namun demikian, ia menegaskan bahwa masyarakat tetap perlu memahami risiko sebenarnya agar dapat bersikap tepat saat berhadapan dengan ular.

Ia mengelompokkan ular ke dalam tiga kategori utama. Pertama, ular tidak berbisa, yaitu jenis yang tidak memiliki kemampuan menyebabkan cedera serius atau kematian pada manusia, dengan tingkat risiko rendah. Kedua, ular besar atau pembelit dengan panjang lebih dari dua meter yang berpotensi membahayakan melalui lilitan, dengan risiko sedang. Ketiga, ular berbisa yang mampu melumpuhkan atau membunuh melalui gigitan, dengan tingkat risiko tinggi.

Menurut Nathan, sebagian besar kasus gigitan ular terjadi karena ular merasa terancam atau akibat penanganan yang ceroboh. Ia mencontohkan king kobra sebagai ular yang cenderung pemalu dan akan menyerang hanya jika terganggu. “Sebagian besar kejadian adalah kecelakaan murni atau akibat manusia mencoba menangkap atau bermain dengan ular,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kemampuan adaptasi ular di alam, seperti ular tanah yang memiliki pola menyerupai daun untuk menyamarkan diri. Hal ini kerap membuat manusia tidak menyadari keberadaannya dan berujung pada insiden tidak disengaja.

Untuk mencegah risiko, Nathan menyarankan langkah sederhana seperti menggunakan sepatu bot atau alas kaki tebal, memakai senter saat berada di area gelap, serta menghindari memasukkan tangan ke semak-semak atau lubang tanpa memastikan kondisi di dalamnya. Ia menegaskan agar masyarakat tidak mencoba menangkap atau membunuh ular tanpa keahlian dan peralatan memadai.

Nathan juga mengingatkan keterbatasan fasilitas medis terkait penanganan bisa ular di Indonesia. Oleh karena itu, pencegahan menjadi langkah paling penting. “Jika tidak yakin jenis ular yang dihadapi, sebaiknya jangan disentuh,” katanya.

Terkait penanganan pertama pada korban gigitan, ia menekankan agar tidak melakukan tindakan yang keliru seperti menyayat luka, mengisap racun, atau mengikat bagian tubuh yang tergigit. 

“Bisa ular tidak langsung masuk ke aliran darah, tetapi masuk melalui kelenjar getah bening. Tindakan seperti menyayat dan mengikat justru memperburuk kondisi,” jelasnya. Ia menyarankan untuk meminimalkan pergerakan pada bagian tubuh yang tergigit dan segera mencari bantuan medis.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman sivitas akademika IPB terhadap risiko dan cara aman menghadapi keberadaan ular di lingkungan kampus.