Peneliti IPB University Sebut Kandungan Antrakuinon dalam Teh Indonesia Tidak Karsinogenik dan Menghambat Sel Kanker Secara In Vitro


Komisi Regulasi Uni Eropa telah memberlakukan kebijakan ambang batas kontaminasi kandungan Antrakuinon (AQ) 0,02 ppm pada teh sejak tahun 2014. Kebijakan ini berdampak pada penurunan ekspor teh Indonesia ke pasar Eropa yang cukup drastis.

Senior Executive Vice President Operation 1 (SEVP Operation 1) PT Riset Perkebunan Nusantara,  Dr. Tjahjono Herawan menyampaikan peranan komoditas teh yang cukup strategis. Menurutnya, Produk Domestik Bruto (PDB) teh mencapai Rp 1,2 triliun setara dengan 0,3 persen dari total PDB nonmigas.

“Ada 360 ribu pekerja yang terlibat dalam produksi teh. Cukup banyak keluarga petani yang bergantung pada teh. Tanaman teh juga menjamin keberlanjutan lingkungan, mengurangi erosi, longsor, banjir, terdapat peran konservasi. Hal ini sangat penting dan sangat selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Tidak hanya itu Indonesia juga merupakan  produsen ke tujuh dunia di bawah China dan India yang memproduksi teh,” ujarnya dalam Webinar Spesial Teh Potensi Antrakuinon, Kontaminan pada Produk Pertanian, dalam menghambat Proliferasi Sel Kanker InVitro, (6/4). Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama RPN, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia Tahun 2020/21 dan IPB University.

Kaitan dengan keberlanjutan masalah regulasi AQ di Eropa, Dr. Tjahjono mengatakan bahwa PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) melakukan penelitian kerjasama dengan peneliti dari perguruan tinggi. Riset ini untuk mencari solusi apakah betul Antrakuinon (AQ) mengakibatkan kanker pada level tertentu, bagaimana fungsi dan pengaruhnya di dalam tubuh, selevel mana akan membuat kanker. Dr Tjahjono berharap hasil penelitian ini dapat diimplementasikan dan juga utamanya sebagai bukti ilmiah untuk negosiasi terkait level Antrakuinon yang akan sangat bermanfaat bagi industri teh di Indonesia.

Prof Suminar Setiati Achmadi, Peneliti IPB University menyampaikan bahwa sampel teh Indonesia lebih dari 50 persennya terdeteksi mengandung 9,10 AQ di atas MRL. Kadarnya tergantung pada teknologi pengeringan yang digunakan. AQ meningkat secara signifikan pada proses pelayuan dan pengeringan akibat proses pembakaran yang kurang sempurna.

Dalam kajiannya, kontra indikasi Human Quotient (HQ) (0,033) mengkonsumsi seduhan teh Indonesia tidak menimbulkan efek karsinogenik, meski dengan konsentrasi konsumsi yang lebih tinggi dan jangka panjang. Selain itu Antrakuinon menampilkan potensi antiproliferasi atau penghambat perbanyakan sel kanker secara in vitro. AQ alami diproduksi oleh tanaman, mikroorganisme dan organisme laut.

“Aktivitasnya antibakteri, antivirus, anti kanker, antitumor, algisida, antijamur, penghambatan enzim, imunostimulan, agregasi antiplatelet, sitotoksik dan antiplasmodium,” ujarnya.

Sementara itu, Prof Irmanida Batubara, Kepala Pusat Studi Biofarmaka Tropika Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University dalam penelitiannya yang berjudul Potensi Antrakuinon dalam Menghambat Proliferasi Sel Kanker In Vitro mengungkapkan bahwa rerata petumbuhan empat sel kanker (human colorectal carcinoma HCT 116, human colon adenocarcinoma WiDr, human breast cancer MCF-7, dan human cervical cancer HeLa) dalam Antrakuinon di berbagai konsentrasi menyebabkan sel kanker tidak tumbuh lebih baik dan sel kanker terhambat pertumbuhannya.

“Penghambatan pertumbuhan sel HeLa telah diketahui yaitu melalui mekanisme apoptosis.  Pada jurnal lain juga terdapat fakta bahwa Antrakuinon yang diinduksi pada tikus terutama di hati, ginjal dan kandung kemih ternyata hanya bersifat karsinogenik pada hati. Zat yang diduga memiliki potensi karsinogenik bagi manusia, klasifikasi dalam kategori ini sebagian besar didasarkan pada bukti hewan,” ujarnya.

Dengan adanya bukti riset teh dengan kandungan AQ dapat menghambat pertumbuhan sel kanker, Dr Rohayati Suprihatini, Peneliti Utama PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) berharap hasil ini dapat menghapus aturan di pasar Uni Eropa.

“Akan tetapi memerlukan waktu panjang karena Indonesia tetap butuh teknologi untuk memproduksi teh dengan kadar AQ di bawah MRL 0.02 ppm. Dari hasil riset ini, telah tersedia beberapa alternatif teknologi untuk memproduksi teh dengan kadar AQ di bawah  MRL.  Teknologi ini perlu segera diimplementasikan di pabrik pabrik teh di Indonesia, apabila Indonesia tidak ingin kehilangan pasar teh di masa depan,” ucapnya. (dh/Zul)



Published Date : 07-Apr-2021

Resource Person : Prof Suminar Setiati Achmadi, Prof Irmanida Batubara, Dr Rohayati Suprihatini

Keyword : Teh, PT RPN, LPPM IPB University, LPDP Kemenkeu