Penggunaan PGPR Percepat Masa Panen dan Tingkatkan Produksi Ubi Jalar di TNGC


Pimpinan Fakultas Pertanian IPB University melakukan kunjungan lapang dan panen ubi jalar di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kuningan, Jawa Barat. Desa Cibuntu merupakan desa penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang berlokasi di Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan. Sebagai desa penyangga, Desa Cibuntu memiliki potensi pelestarian alam dan lahan pertanian yang subur. Warga desa Cibuntu dikenal kompak dalam melakukan aktivitas pelestarian alam dan kegiatan pertanian. Salah satunya adalah kegiatan pertanian ubi jalar.

Rombongan kunjungan terdiri atas Dekan Fakultas Pertanian, Dr Sugiyanta, Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan, Dr  Suryo Wiyono, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dr Afra D N Makalew dan Sekretaris Departemen Proteksi Tanaman, Dr Dewi Sartiami.

“Penanaman ubi jalar di Desa Cibuntu menerapkan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizhobacteria) yang berasal dari TNGC. PGPR ini dikembangkan oleh salah satu dosen kami di Departemen Proteksi Tanaman. Hal ini berawal dari kelangkaan pupuk subsidi di Desa Cibuntu. TNGC melihat kelangkaan ini sebagai peluang untuk melakukan upaya pengelolaan ekosistem di Desa Cibuntu yang merupakan desa penyangga Taman Nasional dengan memanfaatkan mikroba sebagai pengganti pupuk kimia, " ujar Dr Sugiyanta.

Berdasarkan penjelasan Dr Sugiyanta, PGPR merupakan bakteri-bakteri yang hidup di sekitar perakaran tanaman. Bakteri tersebut hidup secara berkoloni menyelimuti akar tanaman. Bagi tanaman, keberadaan mikroorganisme ini sangat baik, karena bakteri ini memberi keuntungan dalam proses fisiologi tanaman dan pertumbuhannya.

Warga Cibuntu menerapkan kombinasi PGPR dengan pupuk kandang untuk menunjang pertumbuhan ubi jalar. Lahan yang digunakan untuk penanaman ubi jalar seluas 70 hektar.
Petani Desa Cibuntu merasa puas dengan penerapan PGPR untuk penanaman ubi jalar. Menurut mereka, penggunaan PGPR dapat mempercepat masa panen selama satu bulan dan meningkatkan produksi ubi jalar hingga 2,5 ton. Harapannya, petani dapat secara konsisten memanfaatkan PGPR dan pupuk kandang sebagai input pertanian. Penerapan PGPR dapat menjadi upaya untuk mempertahankan keseimbangan ekosistem di desa penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai agar idak rusak karena cemaran dan residu pupuk kimia. (**/Zul)



Published Date : 30-Mar-2021

Resource Person : Dr Sugiyanta

Keyword : Fakultas Pertanian, IPB University, Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan