Pakar Ekowisata IPB University Ungkap Tantangan Wisata Alam di Masa Pandemi


Alam kini menjadi salah satu daya tarik yang dapat dinikmati oleh wisatawan. Selain dapat menikmati keindahan alam, wisata alam juga menjadi sarana rekreasi bagi wisatawan agar kembali segar dan kreatif.

Dengan adanya pandemi COVID-19, pengembangan wisata alam mendapatkan tantangan baru. Harapannya wisata alam tetap bisa berkembang sesuai dengan protokol kesehatan.

Prof Dr Harini Muntasib, Guru Besar IPB University dari Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) mengatakan bahwa tantangan terbesar saat ini pada ekowisata adalah penyamaan persepsi pelaku wisata, stakeholder serta pasar.

"Perlu perubahan mendasar pada pelaku wisata serta stakeholder. Yakni melalui pola pikir. Target nasionalnya seharusnya bukan dari jumlah pengunjung tetapi jumlah dana yang didapat oleh masyarakat, pengelola maupun pemerintah. Inovasi kami adalah mendorong daerah agar intensif untuk memfasilitasi para pelaku wisata di daerah berdasarkan suatu tata kelola yang di pahami dan dijalankan dengan konsisten," imbuhnya.

Contohnya inovasi untuk wisata umum. Daerah tujuan wisata yang dulunya hanya terkonsentrasi pada suatu lokasi tertentu bisa lebih menyebar ke lokasi-lokasi di dekatnya. Untuk itu, lokasi-lokasi di sekitarnya juga harus siap dengan pelayanan prima yang setingkat dengan lokasi tujuan utama. Di sini peran pemerintah daerah sangat diperlukan untuk bisa memfasilitasi agar lokasi-lokasi wisata itu menjadi lebih siap.

“Demikian juga dengan berbagai fasilitas lain misalnya rumah makan, cinderamata dan sebagainya. Di Divisi Rekreasi Alam dan Ekowisata Fahutan sedang mengembangkan sumberdaya yang ada agar siap menjadi kawasan wisata alam. Kekuatan IPB University adalah di sumberdaya, maka kita bertugas untuk mengembangkan sumberdaya alam itu untuk menjadi atraksi wisata alam itu luar biasa. Inovasi pada kawasan yang dikembangkan untuk wisata alam juga bisa lebih bervariasi tetapi sesuai juga dengan pelayanan prima,” ujarnya.

Menurutnya, pada umumnya kegiatan wisata adalah keramaian. Padahal wisata itu tidak mesti ramai-ramai, terutama pada masa pandemi. Pada kegiatan wisata alam, sebenarnya yang menjadi tujuan utama adalah alamnya.

“Apabila kita datang pada suatu tempat, maka kita pun mendapatkan makna. Contoh keindahan puncak yakni dari view atau pemandangan kebun tehnya. Dan setiap tempat wisata alam lain juga selalu memiliki keunggulan masing-masing. Apa lagi bila dikembangkan interpretasi wisata alamnya maka sebenarnya alam itu dapat berbicara dengan siapa pun yang datang," tambahnya.

Pada masa pandemi ini, pengelola wisata harus memahami lanskap, keunikan dan keunggulan wilayah yang dijadikan sebagai wisata alam. Semakin banyak tempat wisata yang dibuka dan fokus pada keunggulannya, maka akan semakin banyak pula pilihan yang didapatkan oleh pengunjung. Pada akhirnya akan mengurangi wisata massal yang akan menjadikan penumpukan massa. (SMH/Zul)

 



Published Date : 23-Feb-2021

Resource Person : Prof Harini Muntasib

Keyword : Prof Harini Muntasib, Wisata Alam, Wisata di masa pandemi, dosen IPB