ERC IPB University Bahas Kebakaran Hutan atau Lahan dan Hubungannya dengan Emisi Gas Rumah Kaca


Kerusakan lingkungan di tengah tingginya konversi lahan hutan mengisyaratkan sebuah makna bahwa terdapat tugas perbaikan lingkungan oleh manusia. Salah satunya adalah kebakaran hutan yang memiliki andil dalam mendukung terjadinya bahaya gas rumah kaca.

Hal ini mendorong Environmental Research Center (ERC) IPB University untuk menyelenggarakan Webinar “Kebakaran Hutan/Lahan dan Emisi Gas Rumah Kaca”, (26/6) melalui aplikasi Zoom dan Live Streaming Youtube Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University.

Deputi Kepala PPLH IPB University, Prof Dr Yusli Wardiatno dalam sambutannya mengatakan bahwa salah satu fungsi pusat studi di IPB University adalah mengedukasi. Webinar ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk belajar kepada dua ahli mengenai kebakaran hutan dan korelasinya terhadap gas rumah kaca.

Hadir sebagai narasumber, dosen IPB University yang merupakan Guru Besar di Fakultas Kehutanan, Prof Dr Bambang Hero Saharjo. Dalam paparannya, Prof Bambang mengatakan bahwa emisi gas rumah kaca yang timbul akibat kebakaran yang terjadi di permukaan lahan gambut dan kebakaran gambut dapat dikendalikan dengan cara mengelola gambut dengan benar sesuai peruntukannya. Terutama jika dikaitkan dengan pengaturan tinggi muka air yang sebenar-benarnya. 
“Upaya pencegahan harus dikedepankan dan tidak hanya sebagai pemanis tetapi benar-benar diterapkan,” ujarnya.

Prof Bambang menambahkan bahwa perhitungan emisi gas rumah kaca dari kebakaran gambut dapat dihitung dengan benar, berdasarkan hasil penelitian yang lengkap dan terintegrasi dengan benar dan menggunakan peralatan yang benar dan tepat.

Sementara itu, menurut Dr Haruni Krisnawati, Peneliti Ahli Utama Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), memonitoring kebakaran hutan membutuhkan pemahaman yang tepat terhadap proses kebakaran yang terjadi pada forest system. 
“Apakah kebakaran adalah sebuah ecological change agent, disturbance, a forest management tool. Atau sebagai sebuah proses yang berasosiasi dengan lahan konversi,” jelasnya. 
Ada perbedaan pendekatan dan objektivitas dalam melakukan monitoring. Yakni melalui pre fire (sistem peringatan dini), active fire (keterhubungan antara data satelit) dan post fire (estimasi area yang terbakar). 

“Metode kalkulasi emisi gas rumah kaca akibat kebakaran sudah tersedia, tinggal bagaimana Indonesia bisa meng-improve atau meningkatkan akurasi dari pelaporan gas rumah kaca terutama dari sektor kebakaran,” tutupnya. (**/Zul)

 



Published Date : 29-Jun-2020

Resource Person : Prof Dr Yusli Wardiatno

Keyword : ERC IPB University, Emisi Gas Rumah Kaca, Kebakaran Hutan, dosen IPB, Bambang Hero Saharjo