Beginilah Pesan Rektor IPB dalam Seminar NEMO 2018
Dunia sedang mengalami revolusi. Perubahan ini, dikenal dengan nama “Industrial Revolution 4.0”. Terasa nyata namun tidak disadari oleh semua orang. Satu ciri yang menonjol adalah komputerisasi berbagai aspek dalam hidup manusia. Hal yang tidak terduga, terus menerus menjadi kenyataan di era revolusi ini. Oleh karena itu, para pemuda harus bertahan di tengah itu semua dengan jiwa yang lurus dan pikiran yang kreatif. Pesan itulah yang disampaikan olehRektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Arif Satria pada Seminar National Economic and Management Olympiad (NEMO) 2018 yang disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Sistem Informasi IPB, Prof. Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat M.ScF.Trop.
“Pemuda harus memperhatikan sepuluh faktor sukses. Faktor yang paling utama adalah kejujuran yang terukur. Anda tidak boleh berkata bohong, tetapi Anda juga tidak boleh mengatakan semuanya,” jelas Dodik
Acara ini diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen (BEM FEM) di Auditorium Andi Hakim Nasution (AHN), Kampus IPB Dramaga (28/9). Seminar ini merupakan pembukaan untuk rangkaian lomba dari NEMO 2018, yang mengambil tema “Creative Young Generation Leading The Industrial Revolution 4.0”. Lomba tersebut adalah Economic Paper Competition (EPIC), Marketing Debate Competition (COMIC),Business Plan Competition (AGRINATION), Scientific Paper Competition (GREENBASE), Sharia Economic Competition (SESO).
“Kali ini, NEMO hadir sebagai bentuk kolaborasi ekonomi kreatif dari seluruh kalangan pemuda Indonesia. Ini merupakan bentuk dedikasi kami terhadap kreativitas kalangan muda Indonesia,” kata Adib Zuhdi, Ketua Pelaksana NEMO 2018.
Pada seminar ini, peserta yang hadir tidak hanya dari kalangan mahasiswa IPB saja. Beberapa mahasiswa dari universitas lain seperti Universitas Gadjahmada (UGM) juga datang memeriahkan acara ini. Turut hadir juga dalam seminar ini Dr. Mukhamad Najib, Wakil Dekan Bidang Sarana, Kerjasama dan Pengembangan FEM IPB, Sony Sulaksono, Kepala Puslitbang Teknologi Industri dan Intelektual Kemenperin RI, Indra Refipal Sembiring, Alumni FEM IPB dan Leonardo Adypurnama Alias Teguh Sambodo, SP, MS, Ph.D, Direktur Industri, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas).
Ciri dari revolusi industri 4.0 adalah konektivitas. Menurut Sony Sulaksono, terdapat tiga lapisan dari teknologi di revolusi industri ini, yaitu lapisan fisik, otak, dan konektivitas. “Lapisan ini (konektivitas) yang menghubungkan dua lapisan lainnya,” tuturnya.
Sementara itu, Dr. Najib menyatakan bahwa ekonomi Indonesia, dalam menghadapi revolusi ini, harus tetap berlandaskan kepada dasar negara, Pancasila. Hal ini perlu diingat, karena dunia ini menjadi semakin menjauh dari nilai gotong royong Pancasila. “Kita harus mencari cara bagaimana kita mengakumulasi pengetahuan yang kita miliki,” kata Dr. Najib.
Indra Refipal Sembiring, alumni IPB yang kini menjabat sebagai Senior Manager di PT. HM Sampoerna mangatakan, para generasi Z, sebutan bagi generasi pemuda jaman sekarang, harus memiliki sifat yang berkualitas untuk dapat menjadi pemimpin digital di era revolusi ini. Menurutnya, sifat tersebut adalah sederhana, kejujuran, selalu berhati-hati, visioner, dan baik terhadap komunikasi kepada sesama. “Semua orang bisa menjadi digital leader,” ujarnya kepada para peserta seminar.
Pemerintah Indonesia juga harus siap dalam menghadapi era baru ini. “Kami memastikan apakah ekonomi kreatif ini, dari hulu ke hilir, bisa dilakukan dengan baik,” tutur Leonardo. Ia menandaskan, salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah, adalah mengusahakan lapangan kerja dan sumber daya manusia yang berkualitas. (RP/Zul))
