Menristek Tinjau Kebun Rusnas Buah IPBKamis, 31 Juli 2008

Menteri Negara Riset dan Teknologi, Dr. Kusmayanto Kadiman didampingi Rektor IPB, Dr.Ir.Herry Suhardiyanto, M.Sc, dan peneliti Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) IPB meninjau kebun Riset Unggulan Strategis Nasional (Rusnas) buah-buahan Selasa (29/7) di Tajur.

 

Dalam kunjungan kerja Rusnas IPB tersebut, Dr. Kusmayanto melihat secara langsung tanaman buah-buahan seperti nanas, pisang, cabai, manggis, rambutan, pepaya, melon, manggis hasil Rusnas buah IPB. Prof. Kusmayanto sangat menghargai keberhasilan buah-buahan riset IPB.

 

Sesekali Dr. Kusmayanto dan rombongan menghentikan langkahnya untuk mendiskusikan buah-buahan tropis Indonesia. "Buah-buahan tropis Indonesia potensial untuk diekspor ke manca negara. Ini merupakan tantangan bagi kita semua bagaimana menghasilkan buah-buahan kualitas ekspor sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara tujuan." Oleh karena itu diperlukan penelitian buah sesuai dengan keinginan negara impor. " Jangan sampai kita meneliti berbagai buah unggul, namun belum tentu diminati konsumen."

 

Dr. Kusmayanto mencontohkan karakteristik buah melon untuk ekspor ke Jepang berbeda dengan melon untuk ekspor Singapura. " Penduduk Jepang suka melon yang lembut dan enak "diemut", sedangkan penduduk Singapura suka yang krispy atau renyah."

 

Menyinggung perlindungan kekayaan intelektual dan biodiversity Indonesia, Dr. Kusmayanto mengatakan diperlukan pembuktian fisik, kimia, biologi dan sosio-antropologi. Misalnya, jamu dari asal kata jampi dan husodo. Begitu pula batik yang berasal dari kata jawa amba dan titik. Amba berarti menulis. Titik berarti titik. Batik memiliki arti menulis titik. "Bukti sosio-antropologi batik, keris dan jamu menunjukkan keduanya asli milik khasanah Indonesia."

Saat ini Indonesia juga sedang menelusuri jejak varietas manggis dan temulawak yang sebenarnya merupakan tanaman asli Indonesia. Manggis diklaim tanaman asli Malaysia. Temulawak sedang diklaim tanaman asli India.

 

Menurut Dr. Kusmaryanto, belajar dari Taiwan, tak masalah kita menyesuaikan diri dengan menggunakan label setempat. "Tentu lebih baik lagi, sekiranya baik mulai penelitian, budidaya, pengepakan, dan ekspor Indonesia sendiri yang melakukan."

Negara-negara AsiaAfrika pada ulang tahun Konferensi Asia Afrika ke-50 bersepakat melindungi pengetahuan tradisional dan keanekaragaman hayati.

 

Terkait anggaran penelitian, Dr. Kusmaryanto merencanakan penggabungan dana program insentif dan Rusnas. Penggabungan anggaran ini bertujuan agar penelitian bersifat strategis, efektif, terarah dan bermanfaat. "Kita tidak ingin pemerataan anggaran penelitian bagi semua pihak, namun penelitiannya tak menghasilkan kontribusi sesuai harapan."

Mantan Rektor Institut Teknologi Bandung ini menekankan tiga keberhasilan riset. Pertama, riset harus berkontribusi dalam dunia akademik minimal bisa dimuat di jurnal internasional. Kedua, riset berkontribusi pada sektor ekonomiyakni mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. Ketiga, riset mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Rektor IPB, Dr.Ir. Herry Suhardiyanto menambahkan peran IPB penting dalam melaksanakan Rusnas pada tiga bidang yakni buah-buahan, diversifikasi pangan dan pengembangan industri kelapa sawit." RUSNAS IPB merupakan salah satu bentuk kontribusi untuk menyelesaikan krisis pangan, energi bangsa ini."

Usai mengelilingi kebun rombongan Menristek dan Pimpinan IPB mengunjungi stand-stand pameran.

 

Dalam kesempatan itu, masing-masing perwakilan Rusnas IPB menyampaikan presentasinya antara lain: Dr. Sobir (Rusnas buah tropika), Dr. Ratih Dewanti (Rusnas Diversifikasi Pangan) dan Dr. Lilis Nuraida (RUSNAS Industri Kelapa Sawit). Disamping itu disampaikan pula laporan 27 penelitian Program Insentif Kementrian Negara Riset dan Teknologi yang diperoleh IPB tahun 2008 oleh Wakil Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB. Prof. Ronny Rachman Noor. Acara ini yang diselenggarakan di Auditorium Pusat Studi Regional Penelitian Biologi Tropis (SEAMEO BIOTROP) Tajur, dimoderatori oleh Kepala LPPM IPB, Prof. Bambang Pramudya. (ris)


Valid XHTML 1.0 Transitional

This site best viewed
at 1024x768 resolution
in browser:
FireFox & IE 7